Nama: Felicia Inez Afriliany
NPM: 17117072
Kelas: 1KA25
First Love Dilema
1. SANG WAKTU
Waktu
adalah hal paling kejam yang pernah ada sepanjang peradaban hidup manusia. Dia
bisa berjalan begitu saja, tak peduli kita sedang sedih ataupun gembira. Dan
dia bisa memberi kita sebuah hari baru yang bisa jadi merupakan hari terakhir
kita melihat orang-orang yang kita sayangi. Atau bisa juga membawa pergi segala
hal yang sedang kita nikmati.
Azura
kembali merenung sambil melihat tetes demi tetes hujan yang turun melewati
jendela kelasnya. Dalam benak-benaknya, dia tidak akan pernah melupakan hari
itu. Hari ketika semuanya berakhir, hari ketika dia tak pernah bisa lagi
tersenyum lega. Entah kapan lagi Azura bisa melupakan semuanya dan tersenyum
pada masa suramnya itu.
Hari
ini sudah genap sepuluh bulan setelah kejaidan itu. Dan selama itu pula Azura
sama sekali tak pernah berhenti menunggu sebuah keajaiban yang mungkin akan
mengubah semuanya seperti semula. Bahkan, sering kali Azura berpikir bahwa ini
cuma mimpi buruk yang sering mengganggu tidurnya, dan saat dia terbangun dari
mimpi itu semua pasti akan normal kembali.
Tapi,
rasanya ini terlalu rumit untuk dibilang hanya sebuah mimpi buruk yang
dialaminya ketika tidur. Sepuluh bulan bukanlah waktu yang sebentar. Selama itu
Azura terus menerus menunggu, menunggu, dan menunggu.
“Azura,
bisa kamu maju dan mengerjakan soal yang baru saja saya jelaskan tadi?” tanya
Bu Christin yang sedang mengajar matematika di kelas.
Tanpa
banyak bicara Azura maju dan mengerjakan soal yang ada di papan tulis. Sudah
kesekian kalinya Azura selalu disuruh mengerjakan soal di papan tulis oleh guru
yang sedang mengajarnya. Itu karena guru-guru di sekolahnya sudah tahu bahwa
Azura murid yang suka sekali melamun di kelas. Karena hal inilah Azura sering
di cap aneh oleh teman-temannya, sehingga tidak ada seorang pun yang peduli
atapun menyadari kehadirannya, bahkan teman-temannya sekalipun.
“Lihat
tuh, si cewek aneh mulai ngelamun lagi. Nggak tau apa dari tadi Bu Christin
ngajar kita sampe mulutnya berbusa-busa?” kata seorang cewek berambut panjang
dan bermuka bule, ketika Azura sudah membelakangi teman-temannya untuk
mengerjakan soal yang ada di papan tulis.
“Yang
gue tau, kalo orang suka ngelamun dan berdiam diri kayak begitu, itu
tanda-tandanya anak autis!” sahut cewek yang duduk di depan cewek berwajah bule
itu.
Saat
ini, Azura sedang menanti papanya menjemputnya di sekolah. Sepertinya papa
Azura masih ada meeting di kantor
bersama kliennya, mengingat ini hari rabu, hari meeting rutin mingguan di kantor papanya itu. Azura bosan menunggu
tanpa melakukan apa pun. Apalagi, diluar hujan sedang turun dengan sangat
deras.
Maka,
untuk pertama kalinya azura memutuskan untuk pulang kerumah sendiri tanpa di
jemput papanya. Hujan yang sangat deras diluar tidak menghalangi niat Azura.
Untung hari ini Azura membawa payung lipat sehingga bajunya nanti nggak bakal
terlalu basah tersiram air hujan.
Selang
beberapa menit kemudian, saat taksi yang Azura tumpangi sudah memasuki kompleks
perumahan tempat tinggal Azura yang terkenal elite, dia memutuskan untuk turun
di taman dekat rumahnya saja. Azura merasa malas pulang ke rumah karena nggak
ada siapa-siapa dirumahnya. Dia malas tinggal sendirian saja dirumah.
Setelah
turun dari taksi, Azura mulai memasuki taman itu. Tentu saja taman itu sepi,
tak ada seorang pun yang tampak. Karena, meskipun sekarang hujan sudah tidak sederas tadi dan
kini tinggal rintik-rintik kecil, sudah pasti tak ada orang yang iseng
main-main ke taman saat cuaca tak bersahabat seperti itu. Sebelumnya Azura sama
sekali tak pernah pergi ke taman di dekat rumahnya itu. Salah satunya karena
baru tiga bulan Azuran tinggal di kompleks perumahannya itu.
Setelah
puas berkeliling taman, akhirnya Azura memutuskan untuk duduk di dekat air
mancur di tengah taman. Di dekat bangku air mancur mini itu ada bangku taman
berwarna cokelat. Saat Azura mulai mendekati bangku taman itu, tiba-tiba
dilihatnya sesosok manusia yang tergeletak persis seonggok mayat!
Azura
merasa takut sekaligus penasaran. Kenapa ada orang yang tidur di bangku taman
itu? Atau, jangan-jangan orang itu sudah mati gara-gara dibunuh? Jangan-jangan
pembunuhnya masih berkeliaran di sekitar sini! Pikiran-pikiran negatif mulai
menghantui pikiran Azura.
Dengan
pelan tapi pasti, Azura mulai mendekati bangku taman yang kemungkinan ada
mayatnya itu. Setelah persis berada di sebelah orang itu, dengan takut-takut
Azura memberanikan diri memegang baju orang berjaket hitam itu lalu
mengguncang-guncangnya.
“Bangun,
Bangun! Kamu nggak mati, kan?” tanya Azura sambil mengguncang-guncang orang
itu.
Orang
itu merespons dengan mulai bergerak sedikit akibat guncangan Azura tadi. Dan
itu membuat Azura kaget sekaligus lega. Kaget karena orang itu ternyata masih
bisa bergerak. Lega karena dua tidak harus menemukan mayat di taman seindah
itu. Lalu orang itu membuka tudung jaket yang menutupi wajahnya. Ternyata
seorang cowok!
Wajah
cowok itu pucat dan putih sekali. Entah karena apa. Tapi cowok itu tampak
menarik dengan mata teduhnya, alis tipisnya, hidung mancungnya, dan wajahnya
yang sedikit tampak seperti orang Eropa tapi ada unsur Asia-nya, juga rambutnya
yang berwarna cokelat dan sedikit acak-acakan itu. Rambutnya mirip sekali
dengan Chace Crawford, model Inggris yang sedang naik daun.
“Tadi
kamu bilang apa? Aku nggak denger...,” ucap cowok itu dengan suara halus.
“Ya
ampun! Aku kira tadi aku ngeliat mayat! Ternyata masih hidup!” jawab Azura
sambil masih memandangi cowok itu dengan saksama.
“Kamu
itu lucu deh. Masa orang lagi tidur dikira mati. Tadi itu aku lagi tidur, tau!”
ujar cowok itu sambil tersenyum manis. Senyum yang dapat meluluhkan hati siapa
saja yang melihatnya.
“Tapi,
kamu itu tidur di tempat yang salah! Orang-orang yang ngeliat kamu juga bakal
ngira kamu udah jadi mayat!” omel Azura.
Sekali
lagi cowok itu tersenyum dengan senyum innocent-nya.
“Hahaha..., kamu itu lucu.”
“Aku
ini serius, tau!” seru Azura sambil berkacak pinggang dan menunjukkan raut
marah. Tapi diam-diam Azura penasaran. Kenapa sedari tadi tangan cowok itu
terus memegangi bagian belakang pinggang kanannya?
“Tadi
aku kehujanan, terus karena nggak ada tempat berteduh, ya aku berteduh di sini
saja. Terus karena suasananya mendukung, ya udah, jadi ketiduran deh.” ujar
cowok itu sambil memegangi bagian belakang pinggang kanannya.
“Kamu
tidur di tempat yang salah dan waktu yang salah,” kata Azura lagi
“Kalo
tempat, aku yakin ini tempat umum, jadi siapa pun boleh-boleh saja main ke
sini. Kalau soal waktu, aku rasa waktu itu selalu salah,” kata cowok itu, masih
dengan suara halusnya.
Azura
heran dengan jawaban cowok itu. Apalagi soal waktu. Cowok ini punya paham yang
sama dengan Azura tentang waktu. Waktu adalah hal kejam dan selalu salah. Dalam
artian, waktu selalu membawa pergi hal-hal yang sedang kita nikmati.
“Maksud
kamu?” tanya Azura sambil duduk di sebelah cowok itu.
“Kamu
tau, waktu adalah hal yang paling kejam sepanjag peradaban hidup manusia. Dia
bisa berjalan melewati kita tanpa kita tau apakah dia sudah melewati kita...”
“Atau,
dia bisa dengan gampangnya membawa pergi semua hal yang sedang kita nikmati...,”
Azura menyambung kata-kata cowok itu.
“Lho,
kamu juga tau itu? Kamu juga benci sama waktu?” tanya cowok itu.
“Mungkin
orang-orang bisa menganggap aku aneh kalo aku bilang aku benci sama waktu.
Karena, waktu bisa berganti dengan cepat memandang siapa pun orang yang
merasakannya..” Azura memandang jauh kedepan sambil mengingat kejadian itu.
“Memang
aneh lho. Soalnya kita berdua sama-sama membeci dia, Sang Waktu. Sesuatu yang
abstrak yang nggak bisa dijelaskan dengan bahasa apa pun, tetapi merupakan sesuatu
yang absolut.”
“Kok
pemikiran kamu tentang waktu sama persis ayak aku ya? Baru kali ini lho, aku
ketemu sama orang yang sepaham sama aku, apalagi soal dia, Sang Waktu. Tapi,
kalo boleh tau, kenapa kamu bisa benci banget sama waktu? Selain alasan-alasan
tadi kamu bilang...”
“Hmm...
menurut aku sih, waktu telah membuat aku tidak bisa melihat perubahan. Karena
waktu juga aku lupa akan sesuatu yang bersifat ‘lama’ tadi.”
Azira
mengernyitkan alisnya tanda tidak mengerti. “Maksudnya?”
“Maksudnya?
Gini deh...”
Saat
cowok itu hendak melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba dari arah belakang muncul
papa Azura dengan wajah sangat panik bersama dua orang satpam kompleks.
“Ara,
papa pikirkamu hilang kemana! Papa tuh khawatir banget! Lagian, selama ini kamu
kan nggak pernah pulang sendiri, selalu papa jemput. Kalau kamu kenapa-kenapa
gimana? Papa bisa mati deh!” kata Papa sambil memeluk Azura setelah sebelumnya
memegang kedua pipi Azura.
“Buktinya,
sekarang aku nggak kenapa-kenapa, kan? Lagian, papa jemputnya lama banget sih!
Dikira nggak bosen apa nunggu papa?”
Ketika
Azura berbalkik untuk melihat cowok yang ditemuinya tadi, cowok itu sudah
menghilang. Dari kejauhan Azura melihat cowok berjaket hitam dan bercelana jins
panjang itu tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangan. Padahal tadi Azura
belum sempat berkenalan dengan cowok itu, yang untuk pertama kalinya bisa
membuat Azura membalas senyum seseorang, dengan senyum yang setelah sekian lama
baru bisa muncul lagi di bibirnya.
Baru
sekitar tiga setengah bulan Azura bersekolah di Golden Hight School. Sekolah
itu adalah sekolah favorit, sehingga peminatnya banyak. Lagi pula, sekolah itu
memang keren banget dengan segala fasilitasnya yang lengkap. Tapi, bagi Azura,
sekolah keren itu hanyalah sebuah panggung sandiwara. Kenapa dibilang begitu? Karena
menurutnya, setiap orang yang ada disana seakan hidup dengan topeng dan bisa
disebut mereka semua munafik. Kebanyakan murid-murid di situ memang berasa dari
keluarga yang berkecukupan, tapi kelihatannya otak mereka sama sekali tidak
berkecukupan untuk memahami satu sama lain. Azura belum pernah merasa nyaman
bergaul dengan teman-teman sekolahnya itu.
Akhirnya,
Azura pergi ke atap sekolah. Di situ dia bisa merasakan angin sepoi-sepoi yang
selalu bisa membuatnya melupakan segala hal yang sedang berkecamuk di hatinya.
Ketika
sudah sampai di atap sekolah, Azura melihat seorang cowok sedang duduk sambil
memandang lurus ke pagar pembatas atap sekolah. Pagar itu dibuat untuk
mengantisipasi agar tidak ada yang jatuh. Atap sekolahnya itu memang sepi.
Biasanya Cuma Azura yang mampir ke situ. Di atap itu cuma ada sebuah bak air
besar berwarna oranye yang digunakan sebagai penampung air disekolahnya.
Azura
mendekati cowok yang duduk di bangku itu. Wajah cowok itu tertutup topi hitam,
sehingga Azura tidak bisa melihat dengan jelas wajah cowok itu. Tapi, kali ini
Azura tidak mau mendekati apalagi mencolek dan membangunkan cowok yang
tampaknya tertidur sambil duduk itu. Kali ini dia nggak mungkin melihat orang
yang dikira mayat lagi seperti kemarin!
Kedua
mata Azura terpejam menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus di atap
sekolahnya siang ini. Angin itu dengan lembutnya membelai rambut hitam panjang
Azura yang hari ini digerainya. Rasanya menyenangkan jadi angin, bisa dengan
ringan dan bebas pergi ke sana-sini. Apakah angin mungkin bisa pergi ketempat
Mama berada sekarang? Tanya Azura dalam hati.
“Ternyata
ada orang. Aku pikir dari tadi yang berdiri di sebelah ku itu hantu. Ternyata
kakimu menjejak tanah juga toh....?” seru cowok itu yang tiba-tiba berbalik,
dengan suara yang Azura kenal.
“Lho,
kamu?! Kita ketemu lagi..!” seru Azura antusias.
“Eh
iya! Ternyata kamu anak sini juga? Kemaren kita belum sempet kenalan. Nama kamu
siapa?” tanya cowok itu sambil membetulkan topi hitamnya kemudian menyodorkan
tangan kanannya.
“Azura
Cresentia. Kamu?”
“Nama
kamu indah, ya. Aku Tristan. Kayaknya aku baru liat kamu deh. Baru masuk juga?”
“Iya,
aku baru kelas 10. Kelas aku 10-2. Kalau kamu?”
“Aku
12-IPS-1. Oh, jadi kamu masih kelas 10..?”
“Iya.
Aku pikir kamu kelas 10 juga, ternyata kamu udah kelas 12.”
Tristan
bangun dari tempat duduknya kemudian berdiri disebelah Azura. “Untung bisa
ketemu lagi. Kalo nggak, aku bingung deh gimana nyari kamu. Bisa aja aku jadi
penunggu setia taman kompleks kita itu, berharap suatu waktu kamu bisa nemuin
aku lagi di situ.”
Azura
memang bukan tipe cewek gengsian. Kalau saat itu dia bilang A, dia nggak akan
menyembunyikannya. Maka, sata ketemu Tristan, Azura nggak malu-malu menunjukkan
keantusiasannya.
“Kamu
itu bisa aja deh. Kita punya kesamaan lagi lho. Sebelumnya nggak ada orang yang
pernah kesini selain OB sekolah. Makanya, aku seneng banget di sini. Soalnya
tempat ini nyaman banget...!” kata Azura.
“Aku
juga baru nemuin tempat ini. Kayaknya enak, bisa melepas kepenatan dan
ngerasain angin sepoi-sepoi yang lembut.”
“Baru
nemuin? Kamu itu udah dua tahun lebih sekolah di sini, masa baru sekarang sih
nemuinnya?”
“Aku
belum bilang ya, kalo aku anak pindahan? Baru dua hari yang lalu aku pindah ke
sini. Kita punya kesamaan lagi ya.., sama-sama baru di sini,” kata Tristan.
“Sebelumnya
kamu sekolah di mana?”
“Di
negeri nan jauh di sana.”
“Ya...,
tapi di mana?! Negeri antah-berantah yang nggak ada namanya?” tanya Azura asal.
“Bukan...,
maksudku di Inggris.” kata Tristan sambil menoleh ke arah Azura dan mulai
mengamatinya.
Azura
tingginya sebahu Tristan, wajahnya manis, kelihatannya enak di pandang dan
nggak ngebosenin, dan Tristan sangat menyukai mata Azura. Mata hitam dan
sedikit sipit yang ketika tersenyum menimbulkan dua guratan manis di sekitar
matanya.
Azura
sama sekali tidak menyadari, sedari tadi ada sepasang mata yang
memperhatikannya dengan penuh perhatian. Sekarang yang Azura rasakan hanya
perasaan yang tak pernah dia rasakan lagi sejak puluhan bulan lalu. Apakah kali
ini Sang Waktu berbaik hati memberinya sebuah keajaiban yang sejak hari itu
dinantinya?
Sekarang
Azura nggak mau mengambil kesimpulan dengan cepat tanpa keakuratan yang pasti.
Bisa saja ini lagi-lagi siasat Sang Waktu untuk membuatnya kembali menderita.
Yang ingin Azura lakukan saat ini hanyalah mengikuti Sang Waktu agar dia bisa
memahami apa yang terjadi sebelum terlena dan kemudian terluka lagi.
“Tristan,
bentar lagi bel nih. Kamu nggak mau telat kan, pada hari ketiga kamu disekolah?
Bisa-bisa kamu dicap anak bandel sama guru-guru sensitif di sini.”
“Lho,
memang aku itu aslinya bandel banget! Belum tau aja kamu.”
“Makanya,
nanti jam lima sore aku tunggu di taman supaya kamu bisa cerita semuanya
tentang dirimu. Udah yuk, cepetan turun..!” ajak Azura.
“Aku
baru tau lho, kalo cewek-cewek di sini agresif. Masa ngajakin cowok nge-date duluan? Harusnya kan cowok yang...”
Belum
selesai Tristan mengucapkan kata-katanya, Azura keburu menarik tangan kanannya
untuk turun ke bawah dan kembali ke
kelas. Azura penasaran sekali tentang Tristan. Entah kenapa Azura bisa merasa
seperti itu, begitu penasaran pada satu objek. Mungkin karena Azura dan Tristan
memiliki paham yang sama tentang hal yang sama-sama mereka benci? Tristan
seperti sebuah misteri baru yang masuk ke dalam kehidupan Azura.
Entah
apa pun itu yang mengusik pikiran Azura, dia sangat menanti-nantikan waktu
bergulir dengan cepat sampai menunjukkan pukul lima sore. Waktu yang telah
ditetapkan Azura pada Tristan tadi.
2. BE A LITTLE CLOSER
Bel
pulang sekolah baru saja berbunyi. Tanpa pikir panjang, Azura melesat keluar
dari kelasnya. Dia tidak lagi memedulikan bisikan-bisikan serta tatapan aneh
yang menghunjami dirinya sejak pelajaran terakhir tadi. Karena, tumben sekali
saat pelajaran sejarah tadi, Azura terus fokus memperhatikan Pak Ignatius yang
bercuap-cuap mengenai revolusi industri di dunia.
“Hei...!
Tristan!” seru Azura sambil masih ngos-ngosan menghampiri Tristan.
Saat
ini pukul 17.05. Azura terlambat lima menit dari waktu janjian. Tanpa Azura
duga, ternyata Tristan sudah sampai duluan, malah sekarang cowok itu sedang
main ayunan bersama anak-anak kecil yang mungkin tinggal di kompleks
perumahannya.
“Harusnya
orang yang ngajakin itu dateng duluan. Ini malah yang diundang yang dateng
duluan.” ujar Tristan sambil mendorong ayunannya.
“Kamu
yang terlalu cepet datengnya. Lagian, aku kan Cuma telat lima menit!” Azura
nggak mau mengakui kesalahannya. Kemudian dia berdiri di samping tiang ayunan.
“Jangan
salah, lima menit itu juga berarti lho. Dulu di Inggris, kalau mau sekolah aku
selalu naik kereta. Kalau aku telat satu menit aja, aku harus naik kereta
berikutnya yang datengnya setengah jam kemudian! Kamu sendiri udah tau kan,
waktu nggak pernah mau peduli pada siapa pun. Dia akan terus berjalan tanpa
melihat apapun,” kata Tristan
“Oke,
oke, aku tau...Maaf ya, hari ini aku telat dateng dari waktu janjian. Lain
kali, kalo aku telat walau cuma sedetik, kamu tinggalin aja deh.” ujar Azura
sambil berdiri tiba-toba di depan Tristan yang sedang bermain ayunan.
Untung
Tristan tidak terlalu kencang berayun. Kalo nggak, akibat aksi Azura yang
tiba-tiba tadi mungkin Azura bisa mental diterpa Tristan.
“Azura,
kamu jangan berdiri tiba-tiba di depan aku kayak tadi! Udah tau aku lagi main
ayunan! Kalo tadi kamu ke pental gara-gara aku gimana?” seru Tristan sambil
berhenti dari aksi main ayunannya, kemudian berdiri persis di depan Azura.
Azura
terdiam mendengar kata-kata Tristan barusan. Bukan karena nada suara Tristan
yang terdengar sedikit keras, tapi sepertinya Azura mengalami deja-vu. Azura ingat, dulu dia pernah
berdiri secara tiba-tiba di depan seseorang yang reaksinya sama seperti Tristan
itu.
Tapi,
ini bukan cuma deja-vu biasa. Ini
benar-benar peristiwa yang pernah terjadi dalam hidupnya lima tahun silam, saat
Azura sedang bermain bersama orang itu di sebuah taman juga.
“Azura,
kok kamu jadi diem sih? Masih ngerasa bersalah? Udahlah, aku udah maafin kamu
kok...” kata Tristan, bingung melihat Azura tiba-tiba melamun.
“Ha?”
Azura seperti tersadar dari lamunannya.
Sepertinya
Azura mulai teringat kembali kejadian lima tahun silam. Dan kini, kejadian
sepuluh bulan lalu yang baru dua hari terakhir ini mampu terhapus dari
benaknya, segera datang lagi menghantuinya.
Sekarang,
cewek ini malah berjongkok di depannya dan perlahan-lahan menundukkan kepala
sambil melipat tangannya terlebih dahulu.
“Nggak,
nggak bisa! Sedetik aku bisa ngelupain, tapi detik berikutinya aku pasti inget
lagi!” ujar Azura sambil mengacak-acak rambutnya.
“Azura,
kamu kenapa? Inget soal apa sih?” ujar Tristan dengan suara halusnya seperti
biasa dan ikut-ikutan jongkok seperti Azura.
Azura
sendiri tidak sadar telah berbicara seperti itu. Kini di benaknya muncul
rentetan kejadian yang selama sepuluh bulan ini menyiksa batinya. Sepertinya
Azura sudah mencapai klimaksnya dalam memerangi kejadian itu.
Entah
kenapa sekarang Azura merasa capek sekali. Capek karena dia tidak pernah mau
membagi kesedihannya dengan siapa pun. Dengan papanya saja, Azura memilih untuk
terus memendam semuanya. Kesedihannya, kemarahannya, kejengkelannya. Azura
nggak mau mempercayai siapa pun lagi, karena dia takut saat semuanya terasa
begitu menyenangkan, tiba-tiba keadan nitu lenyap dalam sekejap. Seperti mimpi.
“Tan,
maaf, aku mau pulang aja..,” ucap Azura sambil berdiri dan hendak beranjak dari
taman itu secepat mungkin.
“Emangnya
kenapa? Kamu masih nggak enak sama aku gara-gara telat tadi? Aku kan udah maafin kamu..” ujar
Tristan sambil memegang tangan kanan Azura dan menahan cewek itu agar tidak
meninggalkannya.
“Bukan,
bukan soal kamu. Ini tentang aku, Tan.. Aku butuh menenangkan pikiranku di
rumah.. Aku..” ucap Azura.
“Oke,
aku ngerti. Mungkin lusa atau entah kapan kamu bisa cerita ke aku soal kenapa
kamu tiba-tiba bisa jadi bunglon begini. Tapi aku mau kamu besok berangkat
sekolah bareng aku, ya.”
“Tan,
aku...”
“Bilang
iya aja kok segitu susahnya sih? Besok aku tunggu ya di pos satpam depan
kompleks kita. Aku nggak tau rumah kamu di mana, jadi nggak bisa jemput kamu.”
“Ya
udah...,” ujar Azura sambil meninggalkan Tristan dengan perasaan bingung.
Sepeninggal
Azura, Tristan memutuskan untuk kembali ke kosnya yang memang ada di dalam
kompleks perumahan yang terkenal elite itu.
Seharusnya
sore-sore begini Tristan sudah ada di ranjangnya untuk beristirahat. Tapi
lagi-lagi Tristan tidak beristirahat pada waktunya. Sejak tiga hari yang lalu
dia baru tidur saat jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Padahal itu sangat
tidak boleh dia lakukan. Tapi Tristan
merasa sangat jengkel kalau terus-menerus hanya harus tidur dan minum obat.
Tristan
sangat senang sekaligus penasaran akan kehadiran Azura yang ajaib dan tiba-tiba
itu. Cewek itu punya pandangan yang sama dengannya tentang waktu. Rasanya aneh
saja tiba-tiba menemukan orang yang sama seperti dirinya yang membenci waktu.
Apalagi,
Azura-lah yang kemaren berinisiatif mengajaknya bertemu di taman itu, tempat
pertama kali mereka bertemu. Tapi, tiba-tiba saja Azura memutuskan untuk
meninggalkan Tristan. Cewek itu bahkan tidak memberi alasan yang jelas tentang
sikapnya yang seperti bunglon itu.
Tapi,
Tristan sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. Di tinggalkan tanpa sebuah
penjelasan dan alasan yang pasti.
Oh,
iya! Omong-omong soal Tristan, kemarin sore Azura sudah melakukan kesalahan
pada Tristan. Pertama, Azura sudah telat lima menit dari waktu janjian (padahal
dia yang menetapkan waktunya). Kedua, Azura dengan seenak jidatnya tanpa alasan
dan penjelasan yang akurat meninggalkan Tristan begitu saja di taman itu. Di
tambah lagi, Azura dan Tristan kan baru beberapa hari berkenalan. Mungkin saja
nanti Tristan bakal mencapnya sebagai cewek yang nggak tahu aturan atau etiket.
Jadi,
tentu saja nanti Azura harus berangkat sekolah bareng Tristan dan hal pertama
yang dilakukannya adalah meminta maaf. Sekarang baru pukul 06.02, Azura
meninggalkan kamarnya setelah sebelumnya menulis note untuk papanya bahwa dia bakal berangkat sekolah sendiri.
Delapan
menit kemduan, Azura sampai di pos satpam di puntu keluar kompleksnya itu.
Tentu saja Tristan belum ada di sana. Lagian, mana mungkin Tristan datang
sepagi ini?
Ternyata
ada gunanya tadi Azura bangun jam setengah lima pagi, lalu langsung mandi dan
siap-siap untuk sekolah. Kali ini, sebagai penebus kesalahannya juga, Azura
nggak mau telat. Meskipun Tristan kemaren belum bilang jam berapa mereka akan
bertemu, rasanya lebih sopan dan lebih baik kalau Azura yang datang duluan.
Sekarang Azura sedang menunggu Tristan di samping kanan pos satpam itu.
Ternyata
menunggu memang hal yang paling menjengkelkan dan membosankan. Dua puluh menit
menunggu, Tristan tak kunjung datang juga. Apa mungkin Trista mau membalas
perilaku tidak sopan Azura kemarin sore? Kalau emang iya, kenapa caranya harus
begini?
Tapi,
keresahan Azura hilang saat didengarnya suara motor yang tiba-tiba datang
meghampirinya. Setelah motor itu berhenti sejajar dengan posisi Azura, si
pengendara motor yang mengenakan seragam sekolah seperti dirinya kemudian
membuka helm hitamnya da menunjukkan senyum manis yang bisa menjadi pengganti
sarapan enak, di pagi yang sedikit dingin itu.
“Wow,
hebat banget! Ternyata hari ini kamu yang nyuri start!” kata Tristan.
“Kamu
jangan ngomong gitu dong..... Aku masih ngerasa nggak enak, tau, soal yang
kemarin,” kata Azura sambil menunjukan muka bersalahnya.
“Soal
yang kemarin? Soal apa ya? Aku udah lupa nih....!” ujar Tristan sambil
tersenyum nakal meledek Azura.
Sepertinya
Azura sudah ingin melontarkan beribu permintaan maaf buat Tristan. “Tan, maaf,
kemarin aku udah bikin banyak kesalahan ke kamu. Aku udah telat dari waktu
janjian yang aku buat sendiri... Aku udah ninggalin kamu di taman tanpa alasan
yang jelas.... Aku juga....”
“Iya,
iya, udah kali minta maafnya. Kayak bentar lagi bakal dihukum mati aja kalau
nggak ngaku dosa,” Tristan memotong kata-kata Azura.
“Iya,
oke...., terus...?”
“Terus
apaan?”
“Di
maafin atau nggak nih?”
“Maunya
gimana?” Tristan membalas pertanyaan Azura dengan pertanyaan juga.
“Ya
kamu maunya gimana? Nggak dimaafin, ya?” ujar Azura hopeless.
“Sok
jadi dewa banget aku kalo nggak maafin kamu. Tapi....” Tristan menggantung
kata-katanya.
“Tapi
apa nih?” Azura jadi bingung.
“Kamu
harus nemenin aku jalan-jalan hari ini. Pengganti kemarin sore yang harusnya
kita ngobrol panjang lebar.”
“Ha?
Jalan-jalan? Sekarang?” Azura bingung dengan kata-kata Tristan barusan
“Iya
lah, masa tahun depan? Kita bolos sehari aja.... Ayo lah, kamu mau, kan?”
“Tapi,
itu kan....”
“Kenapa?
Kamu takut guru-guru tau? Atau orangtua kamu?”
“Iya,
aku takut papa aku tau. Dia pasti khawatir banget sama aku kalau tau hari ini
aku bolos. Apalagi sama kamu...” Azura menggantung kata-katanya.
“Kamu
nggak percaya sama aku? Takut diajak ke mana-mana terus di perkosa, gitu?”
tembak Tristan to the point.
Azura
menarik napas kemudian mengehembuskannya perlahan. “Iya sih, Tan.. Kenapa nggak
pas pulang sekolah aja sih? Kan lebih enak...”
“Iya,
iya, aku tau kamu pasti nggak bakal segitu gampangnya mengiyakan ajakan dari
cowok yang baru kamu kenal. Apalagi orangnya kayak aku.”
Azura
memang takut bolos. Nanti kalau papanya tahu gimana? Mungkin Azura bakal nggak
boleh pergi ke mana-mana sendirian lagi. Apalagi, Azura diajak bolos oleh orang
yang jelas-jelas baru dikenalnya! Tapi, hati kecil Azura ingin sekali
mengiyakan ajakan Tristan. Sedari kemarin kan Azura sangat penasaran akan semua
hal tentang Tristan. Azura ingin sekali mendengarkan kisah hidup Tristan,
semuanya pokoknya.
“Tan,
aku mau deh. Tapi tetep, jangan bilang kita lagi bolos, ya! Bilang aja kita
hari ini jalan-jalan spesial!” seru Azura.
“Oke.
Kamu duduk gih cepetan di bekalang aku. Kecuali kalau kamu mau ngikutin aku
dengan jalan kaki...” ujar Tristan lagi.
“Sebenernya
kamu mau ngajakin aku ke mana sih, Tan? Nggak ke tempat aneh-aneh, kan?” ujar
Azura masih waswas.
“Tenang
aja. Aku ini cowok baik-baik dan aku nggak bakal ngapa-ngapain cewek sebaik
kamu. Aku ngajak kamu ke tempat yang ramai kok. Bukan tempat yang aneh-aneh
kayak diskotek gitu,” ujar Tristan sebelum dia menutup kembali helmnya.
Setelah
kurang-lebih satu jam perjalanan, mereka sampai di parkiran motor dekat pintu
masuk Dufan. Buat apa Tristan mengajak Azura kesini? Lagi pula, sekarang baru
jam delapan lebih lima menit. Mana mungkin Dufan buka sepagi ini?
“Tan,
kamu ngajakin aku ke Dufan? Ngapain, coba? Kayak anak kecil aja deh!”
“Emangnya
Dufan isinya cuma anak kecil? Sotoy kamu... Jangan-jangan, seumur hidup kamu
belum pernah ke Dufan, ya?”
Tentu
saja Azura sudah pernah ke Dufan. Azura pernah empat kali ke sini bersama
“dia”. Padahal Azura merasa tempat ini adalah tempat yang nggak mungkin dia
kunjungi lagi. Tempat ini begitu penuh dengan segala kenangan yang membuat
Azura teringat lagi tentang “dia”.
3. ONE DAY MEANS EVERYTHING
“Azura,
kok kamu diem lagi? Hmm...., pasti bentar lagi berubah jadi pendium deh. Terus,
kemungkinan besar aku ditinggalin lagi di sini, di parkiran deket Dufan.” ujar
Tristan
“Nggak
kok. Aku bukan tipe orang yang nggak mau mengulangi kesalahan untuk kedua
kalinya.”
“So?”
“Apa?”
tanya Azura. Di benaknya masih berkelebat memori-memori menyenangkan sepanjang
lima tahun silam itu.
“Kenapa
sih kamu tiba-tiba jadi diem lagi kayak kemarin? Terus, muka kamu kok jadi
suram gitu, kayak orang yang bentar lagi ngadepin kiamat terus nggak punya masa
depan?! Hmm..., let me guess... Pasti
kamu punya sesuatu yang berarti di Dufan, ya?” tebak Tristan Asal.
Azura
seperti tercekik mendengar pertanyaan Tristan yang tiba-tiba tadi. Pertanyaan
tadi langsung menohoknya. Apa mungkin Tristan bisa membaca pikirannya?
“Jangan
mandang aku kayak aku bisa baca pikiran begitu dong! Aku kan Cuma asal nebak,”
ujar Tristan yang bingung tiba-tiba ditatap Azura seolah dirinya hantu.
“Tebakan
kamu bener kok. Aku memang punya sesuatu yang berarti di Dufan. Tapi, aku rasa
semua orang yang pernah ke Dufan punya sesuatu yang berarti yang nggak mungkin
dilupakan.”
“Oh
ya?” Tristan mulai tertarik dengan kata-kata Azura barusan.
Sata
ini Azura dan Tristan duduk bersebelahan di motor Tiger hitam milik Tristan.
Mereka berdua menunggu Dufan buka sambil mengobrol.
“Iya.
Mungkin ada beberapa orang yang baru pertama kali ke Dufan dan naik wahana di
sini. Mereka nggak mungkin lupa kengerian pertama mereka naik wahana-wahana
sadis itu.”
“Wahana-wahana
sadis?”
“Iya.
Kayak Tornado, Kicir-Kicir, Halilintar, Rajawali, Kora-Kora. Apa nggak sadis
tuh?”
“Sadis?
Menurut aku sih malah seru banget lho, Zu. Eh iya, aku boleh manggil kamu Zu,
kan?” tanya Tristan.
“Iya,
iya, terserah. Eh, seru gimana?” ujar Azura penasaran pada kata-kata Tristan
terakhir.
“Kalau
di Inggris, taman ria seperti Dufan begini sih lewat. Parah banget deh jet coaster di Inggris. Seru dan
menantang banget! Bener kata kamu, nggak bakal lupa deh sama kengerian kayak
begitu.”
“Emang
jet coaster di Inggris kayak gimana
sih? Lebih gede daripada Halilintar di Dufan?”
“Iya,
gede banget. Kamu pernah nonton Final
Destination 3? Kayak gitu deh kira-kira gambarannya.”
“Ha???
Yang di Dufan aja aku nggak berani naik. Apalagi seperti yang kamu bilang
tadi.”
“Makanya,
sekali-sekali kamu harus coba. Lumayan lho, buat ngelatih kestabilan jantung
kita.”
“Biar
cepet mati, gitu? Ogah deh..!”
Akhirnya,
Azura dan Tristan meneruskan obrolan mereka. Obrolan mereka terus mengalir dan
mengalir. Rasanya mereka berdua seperti sahabat lama yang baru dipertemukan
lagi. Soalnya, baru sehari kenal mereka berdua langsung nyambung begitu
mengobrol.
Lagi-lagi
Azura bisa melupakan kejadian itu sejenak. Hari ini ia telah memutuskan untuk
berperang memerangi masa lalunya. Meskipun di Dufan ini memori tentang dirinya
dan “dia” begitu banyak hingga nggak bisa lagi dibendung oleh Sang Waktu/
“Tan,
udah ah, istirahat dulu! Aku nggak kuat naik lagi...!” Azura menarik tangan
Tristan untuk duduk di dekat pohon sebentar. Azura nggak kuat lagi naik wahana
berikutnya, karena sebelumnya Tristan sudah mengajaknya naik Tornado.
“Ya
udah, minum dulu nih,” ujar Tristan sambil memberikan sebotol air mineral pada
Azura.
Azura
meneguk air minum pemberian Tristan dengan bersemangat. Sepertinya wahana
Tornado telah mengambil seperempat ion tubuhnya. Jantung Azura masih berdegup kencang,
saking takutnya.
Sejak
pertama kali mereka masuk ke Dufan, wahana yang di pilih Tristan tentu saja
Tornado. Tadinya Azura menolak naik, tapi karena Tristan terus mendesak, akhirnya Azura naik juga. Padahal
Azura sangat anti naik wahana itu.
“Kamu
naik sendiri aja gih. Aku beneran mual banget. Lagian, kamu nggak liat tangan
aku gemeteran tadi pas naik Tornado? Terus, muka aku juga merah, tau!”
“Abis,
kita mau naik apa? Kicir-Kicir?”
“Gimana
kalo kita naik Bianglala aja? Bianglala menantang juga, kan? Tapi juga nggak
ngeri-ngeri banget. Deal?” tiba-tiba
Azura mendapat ide emas untuk naik Bianglala bersama Tristan.
“Iya
deh. Kali ini gantian kamu yang nentuin. Ya udah, yuk kita naik sebelum nanti
terlalu lama ngantri.”
Tristan
dan Azura kemudian pergi ke wahana Bianglala. Sepertinya wahana itu baru dibuka
juga seperti Tornado, jadi Azura dan Tristan mendapat giliran pertama. Akhirnya
mereka duduk bersebrangan di dalam kabin Bianglala.
“Tan,
kita dapet giliran perdana lagi. Berarti hari ini kita tamu spesialnya Dufan!”
ujar Azura riang saat Bianglala sudah mulai bergerak.
“Nggak
sia-sia dong aku ngajakin kamu ke Dufan.”
“Menurut
kamu?”
“Kelihatannya
kamu seneng-seneng aja kok. Padahal, sebelum masuk tadi kamu bilang Dufan tuh
tempatnya anak kecil doang. Aku kira kamu bakal nggak suka dateng ke sini.”
“Aku
bukannya nggak suka sama Dufan, tapi aku lagi males aja dateng kesini.”
“Kenapa?
Apa ada hubungannya sama ‘sesuatu yang berarti’ yang tadi kamu bilang?” tanya
Tristan.
Azura
hanya diam dan nggak menjawab pertanyaan Tristan terakhir itu. Dia bingung
harus menjawab apa.
“Eh,
liat deh! Kita bentar lagi sampai ke puncak!” seru Tristan. Dari situ mereka
berdua bisa melihat Ancol dan kawasan sekitar Jakarta. Tapi, tiba-tiba
Bianglala itu berhenti beroprasi saat posisi Azura dan Tristan tepat di posisi
jam dua belas!
“Lho,
Tan...,kok Bianglala-nya berhenti sih?!” seru Azura panik.
“Nggak
apa-apa. Udah, kamu tenang aja. Yang penting pas kita main Tornado tadi nggak
berhenti kan seperti sekarang?” Tristan berusaha menenangkan Azura.
“Para
pengunjung, mohon maf atas ketidaknyamanan ini. Mungkin sekitar lima belas
menit lagi Bianglala akan beroprasi normal kembali. Terima kasih,” seorang
petugas memberi pengumuman dari bawah.
“Tuh,
kamu tenang aja. Lagian, kita hoki banget lho bisa berhenti pas di puncak
begini. Aku jadi leluasa mandangin semuanya dari sini.”
“Iya,
ya. Aku tadi kaget aja, abis Bianglala-nya berhenti tiba-tiba sih...” Azura
kini sudah nggak kelihatan panik.
“Seneng
banget, dari sini kayaknya aku semakin dekat deh sama langit..” ujar Tristan
sambil berdiri melihat pemandangan yang menarik di depannya.
“Langit?”
“Iya.
Aku selalu seneng liat langit. Dari dulu sampai sekarang langit itu nggak
berubah. Dan, tentu aja, langit nggak pernah ninggalin aku. Ke mana pun aku
pergi pasti ada langit di atas aku.”
“Nama
aku artinya langit biru lho,” cetus Azura.
“Oh,
ya?”
“Iya.
Dulu mama aku juga kagum sama langit seperti kamu sekarang, makanya dia namain
aku Azura.”
“Wah,
berarti emang nggak salah kalo aku nyebut nama kamu indah. Seperi langit biru
yang selalu indah...!” seru Tristan sambil memandang Azura lekat-lekat.
“Tapi,
kalo mau hujan, langit jadi mendung lho. Aku suka serem liat langit yang
seperti itu,” ujar Azura.
“Setelah
hujan dan badai reda selalu ada pelangi. Aku rasa pelangi cocok deh menghiasi
langit biru.”
“Walaupun
habis hujan, kadang kala pelangi nggak muncul. Padahal mungkin ada beribu orang
yang menantikan kehadirannya.”
Azura
ingat, dulu “orang itu” pernah mengibaratkan dirinya seperti pelangi. Indah dan
selalu menjadi tanda hujan telah reda. Sebuah lambang yang sangat berarti dan
penuh makna. Makanya, Azura sangat menanti-nantikan hujan reda, karena pasti
pelangi akan muncul. Tapi sekarang Azura nggak pernah melihat pelangi itu lagi.
“Aku
nggak pernah liat pelangi nggak muncul sehabis hujan. Dulu, kalo lagi hujan aku
takut banget sama petir, terus aku pikirin aja pelangi yang pasti muncul
sehabis hujan. Itu membuat aku sembuh dari fobia takut petir,” ujar Tristan
sambil tersenyum manis.
“Kalo
seandainya pelangi nggak muncul juga, apa kamu masih nungguin juga?”
“Tentu
aja. Adakalahnya kita menunggu sesuatu, tapi nggak kunjung datang. Tapi kalo
kita dengan sabar dan setia menunggu, pasti pelangi itu bakal dateng,” kata
Tristan dengan pasti.
Azura
tercengang mendengar kata-kata Tristan yang terakhir. Sepertinya kata-kata
Tristan menjadi penyejuk sekaligus penyemangat di tengah situasinya yang tidak
pasti. Jadi Azura tetap harus berada pada keputusannya, menanti “dia” dengan
sabar.
Azura
dan Tristan kembali larut dalam obrolan. Mereka berdua saling menceritakan
pribadi masing-masing. Tapi, tentu saja Tristan yang paling banyak menceritakan
soal dirinya yang sempat tinggal di Inggris. Selebihnya Azura hanya
menceritakan dirinya sedikit-sedikit.
Kelihatannya
Azura belum mau terlalu terbuka soal dirinya. Apalagi soal kejadian sepuluh
bulan lalu itu. Azura belum bisa mempercayai Tristan sepenuhnya. Tapi, entah
kenapa hari ini Azura merasa kembali menjadi dirinya yang dulu. Yang penuh
senyuman dan ceriwis banget.
Tanpa
azura sadari, sedikit demi sedikit Tristan telah membuatnya menjadi Azura yang
penuh keceriaan lagi. Dan, daat di Dufan Azura bisa mengingat “dia” dengan
penuh senenangan, bukan dengan kesedihan ataupun kemarahan.
Tristan
melihat arloji sport hitam yang selalu setia bertengger di tangan
kanannya. Pukul 15.25. Seharusnya dia sudah meminum obatnya dua kali, tapi
sepertinya dia benar-benar melupakan waktu hari ini. Tristan merasa hari ini
jiwanya bebas sehingga melupakan semuanya.
Akibatnya,
Tristan jadi merasa sangat letih dan sedikit mual. Mestinya, jika lupa meminum
obat, Tristan harus menggandakan waktu istirahatnya. Sekarang Tristan merasa
sebentar lagi tubuhnya bakal ambruk.
“Tan...,
kamu kenapa?” Azura bingung melihat Tristan yang tiba-tiba berjalan sedikit
sempoyongan.
Azura
dan Tristan sedang mengantre untuk masuk ke wahana Extreme Log. Hari ini Azura puas banget bsa menikmati wahana yang
belum pernah di naikinya. Ketika antre sudah bergerak maju, Azura yang mengekor
di belakang Tristan semakin bingung melihat Tristan yang berjalan semakin
sempoyongan.
“Ha..?!
Nggak apa-apa kok, Zu. Aku cuma kecapekan nih” jawab tristan sekenanya. Padahal
Tristan merasa matanya berkunang-kunang.
“Capek?
Dari tadi kamu yang terus-terusan ngajakin aku naik wahana sadis. Kok malahan
kamu yang kalah duluan sih?” canda Azura.
“Iya
nih. Malah aku yang kalah, ya? Abis ini kita pulang ya, aku pengen cepet-cepet
tidur. Mungkin gara-gara semalem aku begadang. Terus aku mau masuk angin nih
kayaknya,” ujar Tristan bohong.
“Oke.
Lagian, aku nggak mau telat pulang kerumah. Hari ini kan papa taunya aku pulang
jam lima. Usahain sebelum jam lima aku udah sampai rumah ya, biar papaku nggak
curiga, Tan..”
Setidaknya aku harus kuat sampai
nganterin Azura pulang kerumahnya, kata Tristan dalam
hati.
“Tan,
aku seneng banget, setelah sekian lama akhirnya aku bisa bener-bener ngelupain
semuanya,”ujar Azura saat mereka berdua selesai bermain Extreme Log dan berjalan ke pintu keluar.
“Ngelupain
apa?” tanya Tristan.
“Ya
kepenatan dan kesibukan di sekolah. Aku males kalo lagi di sekolah. Isinya cuma
orang-orang munafik yang nggak bisa berperang melawan problem hidup
masing-masing.”
“Kayaknya
kamu punya dendam sama beberapa anak-anak di sekolah, ya? Kata-kata kamu sinis
banget lho!” kata Tristan, yang kini sudah mulai bisa menahan diri agar tidak
pingsan di depan Azura.
“Nggak
kok. Aku prihatin dan kasihan aja ngeliat mereka. Kayak nggak pernah mensyukur
kehidupan yang mereka punya sekarang. Setiap hari aku selalu ngeliat mereka
ngeluh minta yang lebih, lebih, dan lebih, dan cuma menginginkan enak-enak. Pahitnya
nggak mau.”
“Ya,
mungkin sikap alami manusia aja,kali. Selalu mau lebih dan egois. Udah ah, kamu
malah ngomongin orang erus. Jadi presenter gosip aja gih.”
“Iya,
iya, nggak lagi deh!” ujar Azura yang kini diam sambil berjalan ke parkiran
Dufan bersama Tristan di sebelah kirinya.
Akhirnya,
pukul lima kurang lima belas menit Tristan berhasil mengantar Azura sampai ke
rumahnya. Hebatnya, Tristan sama sekali tidak ambruk di depan Azura. Sehabis mengantar
Azura dia berjanji pada dirinya sendiri akan segera minum obat, lalu tidur.
“Tan,
makasih ya, hari ini udah ngajak aku ke Dufan. Laim kali kita main-main lagi ke
tempat yang fun juga.”
“Oke
deh, Bos!” ujar Tristan sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.
“Ya
udah, sekarang kamu mampir bentar dong ke rumah aku. Nanti aku kenalin sama
papaku,” ajak Azura
Tristan
sedikit bingung dengan ajakan Azura untuk mampir. “Lain kali aja, ya. Boleh nggak?”
“Ang
nggak bakal nerima tamu di lain waktu.”
“Yah..
kok begitu? Nona rumahnya ternyata sinis ya, berda sama rumahnya yang ramah dan
welcome banget sama tamunya.”
“Emang
rumah bisa ngomong?! Ayolah, Tan, bentaran aja...!” Azura masih membujuk
Tristan.
“Iya,
iya,oke..! Susah sih, kamu udah cinta mati sama aku. Jadi kamu masih betah deh
berlama-lama sama aku. Aku orangnya ngangenin sih...,”canda Tristan dengan
pedenya.
“Whatever deh, Tan. Udah, cepet sini
masukin motornya!” kata Azura sambil membuka pagar hitam rumahnya dan menyuruh
Tristan masuk.
Setelah
memarkir motor, Tristan mengikuti Azura masuk dari pintu depan rumah. Azura
menyuruh Tristan untuk menunggu sebentar diruang tamu, karena Azura mau
menelpon papanya dan bilang nggak usah jemput di sekolah. Kalau nggak, ketauan
dong hari ini Azura bolos sekolah.
Sepeninggal
Azura, Tristan mendekati lemari kaca di pojok ruang tamu Azura tempat
pigura-pigura foto terpajang. Di sana banyak foto Azura kecil bersama
keluarganya. Azura lucu banget waktu kecil. Tiba-tiba mata Tristan terbelalak saat
melihat satu foto berukuran sedang yang piguranya berwarna pink pastel dengan
hiasan kerang-kreang laut.
Di
foto itu, Azura yang berseragam SMP tampak memegang sebuah piala sambil
tersenyum manis, sementara di sampingnya berdiri seorang cowok yang juga
memaikai seragam putih-biru seperti Azura, sedang tersenyum jail. Cowok itu
bukannya...
“Tan!
Aku sampai lupa mau nawarin kamu minum. Mau minum apa nih?” suara Azura
langsung mengagetkan Tristan yang masih serius melihat foto itu.
“Eh,
aku minta air putih aja deh. Jangan dingin, ya!” ujar Tristan.
“Oke.”
Azura kemduan berbalik ke arah ruang makan.
Setelah
Azura mengambilkan minum buat Tristan, mereka duduk di sofa berwarna kuning
gading di ruang tamu. Tak lama setelah mereka berdua duduk, klakson mobil CRV
yang sangat dikenal dengan Azura terdengar dari depan.
“Itu
papaku, Tan!” ujar Azura riang.
Azura
menunggu papanya masuk. Saat papanya mulai membuka pintu, Azura mendekatinya.
“Ra,
kok ada motor Tiger hitam? Itu punya siapa?” ujar papa bingung melihat motor di dekat garasinya.
“Makanya,
aku mau ngenalin Papa sama yang punya tuh motor. Sini, Tan,” Azura memanggil
Tristan.
“Sore,
Om, saya Tristan,” ujar Tristan sopan sambil menyalami papa Azura.
“Ohm
kamu temen sekelas Azura?” Papa Azura merasa sedikit mengenali Tristan entah
karena apa.
“Bukan,
Pa. Dia kaka kelas aku. Baru masuk juga, sama kayak aku.” Azura menjelaskan.
Oh...
Ya sudah, kalian berdua lanjutin ngobrolnya ya, papa mau masuk dulu,” ujar papa
Azura sambil berjalan meninggalkan ruang tamu setelah sebelumnya masih
memandangi Tristan dengan penuh arti.
“Zu,
aku nggak bisa lama-lama, ya. Aku baru inget, jam enam nanti aku ada janji.”
Tristan kembali teringat dengan kondisi tubuhnya.
“Ya
udah deh. Yang penting papaku udah kenalan sama kamu. Jadi, nanti kalau aku mau
pergi lagi sama kamu, papaku kan udah tau kamu. Pasti diizinin deh!” ujar Azura
sambil mengantar Tristan ke luar rumah.
Malam
ini berbeda dari malam-malam yang telah Azura lewati selama ini. Hatinya
kembali dipenuhi kehangatan sejak diajak pergi Tristan tadi. Rasanya satu hari
ini berarti segala-galanya bagi Azura.
Azura
bisa membuka diri lagi terhadap orang lain, Azura bisa mempercayai seseorang
lagi untuk mendengar cerita-ceritanya meskipun belum sepenuhnya. Azura bisa
memerangi sejuta kenangannya tentang orang itu di Dufan tadi. Pokoknya, hari
ini terasa begitu lengkap dan indah.
Tanpa
Azura sadari, papanya memandangnya dari jauh dan tersenyum penuh arti, azura
memang tidak pernah menutup pintu kamarnya, kecuali kalau dia mau tidur. Makanya
papa Azura bisa melihat anaknya yang sedang tersenyum sambil memeluk guling
itu.
Papa
juga bingung mengapa Azura bisa jadi seperti ini setelah dekat dengan Tristan. Padahal
sebelumnya Azura nggak pernah begitu. Sepertinya kecurigaan papa semakin
bertambah ketika dia menyadari hipotensisnya bahwa Tristan memang mirip “dia”.
Sesampainya
di tempat kosnya, sebuah rumah besar di kompleksnya yang berbeda tiga blok dari
rumah Azura, Tristan memarkirkan motornya di tempat biasa.kemudian dia langsung
masuk ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Hal
yang dilakukan Tristan pertama kali adalah mencari obatnya, setelah itu meminumnya
dengan air mineral yang sudah tersedia di kamarnya itu. selanjutnya, Tristan
membanting tubuhnya di ranjang single di
kamar kosnya itu.
Tristan
kembali mengenang kejadian-kejadian hari ini bersama Azura. Kemudian, dia
tersenyum sendiri mengingat semuanya itu. mengingat tadi dia berhasil tidak
ambril di depan Azura.
Besok
Tristan akan menjemput Azura di rumahnya untuk pergi ke sekolah bareng. Tristan
juga masih sangat penasaran soal foto yang dibingkai frame pink pastel tadi, yang dilihat-lihat di ruang tamu rumah
Azura.
Tristan
memang bukan tipe orang yang suka bertanya-tanya kepada seseorang mengenai
hal-hal yang mungkin bersifat privat. Tapi entah kenapa dia begitu penasaran
soal cowok yang berdiri sambil tersenyum jail di samping Azura dalam foto itu.
KESIMPULAN
Membenci sesuatu yang berlebihan menurut kita memang
biasa saja. Namun membenci bukanlah akhir dari semuanya. Kita bisa menghapus
kebencian dengan melakukan sesuatu yang baru. Seperti perlahan lahan melupakan
tentang apa yang kita benci. Mengorbankan sesuatu hanya untuk membahagiaan
seseorang yang menurut kita perlu di bahagiakan itu memang terlihat bagus. Namun,
jangan terlalu memaksakan sesuatu sampai lupa dengan kesehatan.
SUMBER
Penerbit: PT. Gramedia
Pustaka Utama
Penulis: Pricillia
Anastasia Warokka
Judul: First Love
Dilema