Selasa, 03 Juli 2018

First Love Dilema (Rangkuman Novel)


Nama: Felicia Inez Afriliany
NPM: 17117072
Kelas: 1KA25

First Love Dilema
1.     SANG WAKTU
Waktu adalah hal paling kejam yang pernah ada sepanjang peradaban hidup manusia. Dia bisa berjalan begitu saja, tak peduli kita sedang sedih ataupun gembira. Dan dia bisa memberi kita sebuah hari baru yang bisa jadi merupakan hari terakhir kita melihat orang-orang yang kita sayangi. Atau bisa juga membawa pergi segala hal yang sedang kita nikmati.
Azura kembali merenung sambil melihat tetes demi tetes hujan yang turun melewati jendela kelasnya. Dalam benak-benaknya, dia tidak akan pernah melupakan hari itu. Hari ketika semuanya berakhir, hari ketika dia tak pernah bisa lagi tersenyum lega. Entah kapan lagi Azura bisa melupakan semuanya dan tersenyum pada masa suramnya itu.
Hari ini sudah genap sepuluh bulan setelah kejaidan itu. Dan selama itu pula Azura sama sekali tak pernah berhenti menunggu sebuah keajaiban yang mungkin akan mengubah semuanya seperti semula. Bahkan, sering kali Azura berpikir bahwa ini cuma mimpi buruk yang sering mengganggu tidurnya, dan saat dia terbangun dari mimpi itu semua pasti akan normal kembali.
Tapi, rasanya ini terlalu rumit untuk dibilang hanya sebuah mimpi buruk yang dialaminya ketika tidur. Sepuluh bulan bukanlah waktu yang sebentar. Selama itu Azura terus menerus menunggu, menunggu, dan menunggu.
“Azura, bisa kamu maju dan mengerjakan soal yang baru saja saya jelaskan tadi?” tanya Bu Christin yang sedang mengajar matematika di kelas.
Tanpa banyak bicara Azura maju dan mengerjakan soal yang ada di papan tulis. Sudah kesekian kalinya Azura selalu disuruh mengerjakan soal di papan tulis oleh guru yang sedang mengajarnya. Itu karena guru-guru di sekolahnya sudah tahu bahwa Azura murid yang suka sekali melamun di kelas. Karena hal inilah Azura sering di cap aneh oleh teman-temannya, sehingga tidak ada seorang pun yang peduli atapun menyadari kehadirannya, bahkan teman-temannya sekalipun.
“Lihat tuh, si cewek aneh mulai ngelamun lagi. Nggak tau apa dari tadi Bu Christin ngajar kita sampe mulutnya berbusa-busa?” kata seorang cewek berambut panjang dan bermuka bule, ketika Azura sudah membelakangi teman-temannya untuk mengerjakan soal yang ada di papan tulis.
“Yang gue tau, kalo orang suka ngelamun dan berdiam diri kayak begitu, itu tanda-tandanya anak autis!” sahut cewek yang duduk di depan cewek berwajah bule itu.
Saat ini, Azura sedang menanti papanya menjemputnya di sekolah. Sepertinya papa Azura masih ada meeting di kantor bersama kliennya, mengingat ini hari rabu, hari meeting rutin mingguan di kantor papanya itu. Azura bosan menunggu tanpa melakukan apa pun. Apalagi, diluar hujan sedang turun dengan sangat deras.
Maka, untuk pertama kalinya azura memutuskan untuk pulang kerumah sendiri tanpa di jemput papanya. Hujan yang sangat deras diluar tidak menghalangi niat Azura. Untung hari ini Azura membawa payung lipat sehingga bajunya nanti nggak bakal terlalu basah tersiram air hujan.
Selang beberapa menit kemudian, saat taksi yang Azura tumpangi sudah memasuki kompleks perumahan tempat tinggal Azura yang terkenal elite, dia memutuskan untuk turun di taman dekat rumahnya saja. Azura merasa malas pulang ke rumah karena nggak ada siapa-siapa dirumahnya. Dia malas tinggal sendirian saja dirumah.
Setelah turun dari taksi, Azura mulai memasuki taman itu. Tentu saja taman itu sepi, tak ada seorang pun yang tampak. Karena, meskipun  sekarang hujan sudah tidak sederas tadi dan kini tinggal rintik-rintik kecil, sudah pasti tak ada orang yang iseng main-main ke taman saat cuaca tak bersahabat seperti itu. Sebelumnya Azura sama sekali tak pernah pergi ke taman di dekat rumahnya itu. Salah satunya karena baru tiga bulan Azuran tinggal di kompleks perumahannya itu.
Setelah puas berkeliling taman, akhirnya Azura memutuskan untuk duduk di dekat air mancur di tengah taman. Di dekat bangku air mancur mini itu ada bangku taman berwarna cokelat. Saat Azura mulai mendekati bangku taman itu, tiba-tiba dilihatnya sesosok manusia yang tergeletak persis seonggok mayat!
Azura merasa takut sekaligus penasaran. Kenapa ada orang yang tidur di bangku taman itu? Atau, jangan-jangan orang itu sudah mati gara-gara dibunuh? Jangan-jangan pembunuhnya masih berkeliaran di sekitar sini! Pikiran-pikiran negatif mulai menghantui pikiran Azura.
Dengan pelan tapi pasti, Azura mulai mendekati bangku taman yang kemungkinan ada mayatnya itu. Setelah persis berada di sebelah orang itu, dengan takut-takut Azura memberanikan diri memegang baju orang berjaket hitam itu lalu mengguncang-guncangnya.
“Bangun, Bangun! Kamu nggak mati, kan?” tanya Azura sambil mengguncang-guncang orang itu.
Orang itu merespons dengan mulai bergerak sedikit akibat guncangan Azura tadi. Dan itu membuat Azura kaget sekaligus lega. Kaget karena orang itu ternyata masih bisa bergerak. Lega karena dua tidak harus menemukan mayat di taman seindah itu. Lalu orang itu membuka tudung jaket yang menutupi wajahnya. Ternyata seorang cowok!
Wajah cowok itu pucat dan putih sekali. Entah karena apa. Tapi cowok itu tampak menarik dengan mata teduhnya, alis tipisnya, hidung mancungnya, dan wajahnya yang sedikit tampak seperti orang Eropa tapi ada unsur Asia-nya, juga rambutnya yang berwarna cokelat dan sedikit acak-acakan itu. Rambutnya mirip sekali dengan Chace Crawford, model Inggris yang sedang naik daun.
“Tadi kamu bilang apa? Aku nggak denger...,” ucap cowok itu dengan suara halus.
“Ya ampun! Aku kira tadi aku ngeliat mayat! Ternyata masih hidup!” jawab Azura sambil masih memandangi cowok itu dengan saksama.
“Kamu itu lucu deh. Masa orang lagi tidur dikira mati. Tadi itu aku lagi tidur, tau!” ujar cowok itu sambil tersenyum manis. Senyum yang dapat meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya.
“Tapi, kamu itu tidur di tempat yang salah! Orang-orang yang ngeliat kamu juga bakal ngira kamu udah jadi mayat!” omel Azura.
Sekali lagi cowok itu tersenyum dengan senyum innocent-nya. “Hahaha..., kamu itu lucu.”
“Aku ini serius, tau!” seru Azura sambil berkacak pinggang dan menunjukkan raut marah. Tapi diam-diam Azura penasaran. Kenapa sedari tadi tangan cowok itu terus memegangi bagian belakang pinggang kanannya?
“Tadi aku kehujanan, terus karena nggak ada tempat berteduh, ya aku berteduh di sini saja. Terus karena suasananya mendukung, ya udah, jadi ketiduran deh.” ujar cowok itu sambil memegangi bagian belakang pinggang kanannya.
“Kamu tidur di tempat yang salah dan waktu yang salah,” kata Azura lagi
“Kalo tempat, aku yakin ini tempat umum, jadi siapa pun boleh-boleh saja main ke sini. Kalau soal waktu, aku rasa waktu itu selalu salah,” kata cowok itu, masih dengan suara halusnya.
Azura heran dengan jawaban cowok itu. Apalagi soal waktu. Cowok ini punya paham yang sama dengan Azura tentang waktu. Waktu adalah hal kejam dan selalu salah. Dalam artian, waktu selalu membawa pergi hal-hal yang sedang kita nikmati.
“Maksud kamu?” tanya Azura sambil duduk di sebelah cowok itu.
“Kamu tau, waktu adalah hal yang paling kejam sepanjag peradaban hidup manusia. Dia bisa berjalan melewati kita tanpa kita tau apakah dia sudah melewati kita...”
“Atau, dia bisa dengan gampangnya membawa pergi semua hal yang sedang kita nikmati...,” Azura menyambung kata-kata cowok itu.
“Lho, kamu juga tau itu? Kamu juga benci sama waktu?” tanya cowok itu.
“Mungkin orang-orang bisa menganggap aku aneh kalo aku bilang aku benci sama waktu. Karena, waktu bisa berganti dengan cepat memandang siapa pun orang yang merasakannya..” Azura memandang jauh kedepan sambil mengingat kejadian itu.
“Memang aneh lho. Soalnya kita berdua sama-sama membeci dia, Sang Waktu. Sesuatu yang abstrak yang nggak bisa dijelaskan dengan bahasa apa pun, tetapi merupakan sesuatu yang absolut.”
“Kok pemikiran kamu tentang waktu sama persis ayak aku ya? Baru kali ini lho, aku ketemu sama orang yang sepaham sama aku, apalagi soal dia, Sang Waktu. Tapi, kalo boleh tau, kenapa kamu bisa benci banget sama waktu? Selain alasan-alasan tadi kamu bilang...”
“Hmm... menurut aku sih, waktu telah membuat aku tidak bisa melihat perubahan. Karena waktu juga aku lupa akan sesuatu yang bersifat ‘lama’ tadi.”
Azira mengernyitkan alisnya tanda tidak mengerti. “Maksudnya?”
“Maksudnya? Gini deh...”
Saat cowok itu hendak melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba dari arah belakang muncul papa Azura dengan wajah sangat panik bersama dua orang satpam kompleks.
“Ara, papa pikirkamu hilang kemana! Papa tuh khawatir banget! Lagian, selama ini kamu kan nggak pernah pulang sendiri, selalu papa jemput. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana? Papa bisa mati deh!” kata Papa sambil memeluk Azura setelah sebelumnya memegang kedua pipi Azura.
“Buktinya, sekarang aku nggak kenapa-kenapa, kan? Lagian, papa jemputnya lama banget sih! Dikira nggak bosen apa nunggu papa?”
Ketika Azura berbalkik untuk melihat cowok yang ditemuinya tadi, cowok itu sudah menghilang. Dari kejauhan Azura melihat cowok berjaket hitam dan bercelana jins panjang itu tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangan. Padahal tadi Azura belum sempat berkenalan dengan cowok itu, yang untuk pertama kalinya bisa membuat Azura membalas senyum seseorang, dengan senyum yang setelah sekian lama baru bisa muncul lagi di bibirnya.
Baru sekitar tiga setengah bulan Azura bersekolah di Golden Hight School. Sekolah itu adalah sekolah favorit, sehingga peminatnya banyak. Lagi pula, sekolah itu memang keren banget dengan segala fasilitasnya yang lengkap. Tapi, bagi Azura, sekolah keren itu hanyalah sebuah panggung sandiwara. Kenapa dibilang begitu? Karena menurutnya, setiap orang yang ada disana seakan hidup dengan topeng dan bisa disebut mereka semua munafik. Kebanyakan murid-murid di situ memang berasa dari keluarga yang berkecukupan, tapi kelihatannya otak mereka sama sekali tidak berkecukupan untuk memahami satu sama lain. Azura belum pernah merasa nyaman bergaul dengan teman-teman sekolahnya itu.
Akhirnya, Azura pergi ke atap sekolah. Di situ dia bisa merasakan angin sepoi-sepoi yang selalu bisa membuatnya melupakan segala hal yang sedang berkecamuk di hatinya.
Ketika sudah sampai di atap sekolah, Azura melihat seorang cowok sedang duduk sambil memandang lurus ke pagar pembatas atap sekolah. Pagar itu dibuat untuk mengantisipasi agar tidak ada yang jatuh. Atap sekolahnya itu memang sepi. Biasanya Cuma Azura yang mampir ke situ. Di atap itu cuma ada sebuah bak air besar berwarna oranye yang digunakan sebagai penampung air disekolahnya.
Azura mendekati cowok yang duduk di bangku itu. Wajah cowok itu tertutup topi hitam, sehingga Azura tidak bisa melihat dengan jelas wajah cowok itu. Tapi, kali ini Azura tidak mau mendekati apalagi mencolek dan membangunkan cowok yang tampaknya tertidur sambil duduk itu. Kali ini dia nggak mungkin melihat orang yang dikira mayat lagi seperti kemarin!
Kedua mata Azura terpejam menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus di atap sekolahnya siang ini. Angin itu dengan lembutnya membelai rambut hitam panjang Azura yang hari ini digerainya. Rasanya menyenangkan jadi angin, bisa dengan ringan dan bebas pergi  ke sana-sini. Apakah angin mungkin bisa pergi ketempat Mama berada sekarang? Tanya Azura dalam hati.
“Ternyata ada orang. Aku pikir dari tadi yang berdiri di sebelah ku itu hantu. Ternyata kakimu menjejak tanah juga toh....?” seru cowok itu yang tiba-tiba berbalik, dengan suara yang Azura kenal.
“Lho, kamu?! Kita ketemu lagi..!” seru Azura antusias.
“Eh iya! Ternyata kamu anak sini juga? Kemaren kita belum sempet kenalan. Nama kamu siapa?” tanya cowok itu sambil membetulkan topi hitamnya kemudian menyodorkan tangan kanannya.
“Azura Cresentia. Kamu?”
“Nama kamu indah, ya. Aku Tristan. Kayaknya aku baru liat kamu deh. Baru masuk juga?”
“Iya, aku baru kelas 10. Kelas aku 10-2. Kalau kamu?”
“Aku 12-IPS-1. Oh, jadi kamu masih kelas 10..?”
“Iya. Aku pikir kamu kelas 10 juga, ternyata kamu udah kelas 12.”
Tristan bangun dari tempat duduknya kemudian berdiri disebelah Azura. “Untung bisa ketemu lagi. Kalo nggak, aku bingung deh gimana nyari kamu. Bisa aja aku jadi penunggu setia taman kompleks kita itu, berharap suatu waktu kamu bisa nemuin aku lagi di situ.”
Azura memang bukan tipe cewek gengsian. Kalau saat itu dia bilang A, dia nggak akan menyembunyikannya. Maka, sata ketemu Tristan, Azura nggak malu-malu menunjukkan keantusiasannya.
“Kamu itu bisa aja deh. Kita punya kesamaan lagi lho. Sebelumnya nggak ada orang yang pernah kesini selain OB sekolah. Makanya, aku seneng banget di sini. Soalnya tempat ini nyaman banget...!” kata Azura.
“Aku juga baru nemuin tempat ini. Kayaknya enak, bisa melepas kepenatan dan ngerasain angin sepoi-sepoi yang lembut.”
“Baru nemuin? Kamu itu udah dua tahun lebih sekolah di sini, masa baru sekarang sih nemuinnya?”
“Aku belum bilang ya, kalo aku anak pindahan? Baru dua hari yang lalu aku pindah ke sini. Kita punya kesamaan lagi ya.., sama-sama baru di sini,” kata Tristan.
“Sebelumnya kamu sekolah di mana?”
“Di negeri nan jauh di sana.”
“Ya..., tapi di mana?! Negeri antah-berantah yang nggak ada namanya?” tanya Azura asal.
“Bukan..., maksudku di Inggris.” kata Tristan sambil menoleh ke arah Azura dan mulai mengamatinya.
Azura tingginya sebahu Tristan, wajahnya manis, kelihatannya enak di pandang dan nggak ngebosenin, dan Tristan sangat menyukai mata Azura. Mata hitam dan sedikit sipit yang ketika tersenyum menimbulkan dua guratan manis di sekitar matanya.
Azura sama sekali tidak menyadari, sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan penuh perhatian. Sekarang yang Azura rasakan hanya perasaan yang tak pernah dia rasakan lagi sejak puluhan bulan lalu. Apakah kali ini Sang Waktu berbaik hati memberinya sebuah keajaiban yang sejak hari itu dinantinya?
Sekarang Azura nggak mau mengambil kesimpulan dengan cepat tanpa keakuratan yang pasti. Bisa saja ini lagi-lagi siasat Sang Waktu untuk membuatnya kembali menderita. Yang ingin Azura lakukan saat ini hanyalah mengikuti Sang Waktu agar dia bisa memahami apa yang terjadi sebelum terlena dan kemudian terluka lagi.
“Tristan, bentar lagi bel nih. Kamu nggak mau telat kan, pada hari ketiga kamu disekolah? Bisa-bisa kamu dicap anak bandel sama guru-guru sensitif di sini.”
“Lho, memang aku itu aslinya bandel banget! Belum tau aja kamu.”
“Makanya, nanti jam lima sore aku tunggu di taman supaya kamu bisa cerita semuanya tentang dirimu. Udah yuk, cepetan turun..!” ajak Azura.
“Aku baru tau lho, kalo cewek-cewek di sini agresif. Masa ngajakin cowok nge-date duluan? Harusnya kan cowok yang...”
Belum selesai Tristan mengucapkan kata-katanya, Azura keburu menarik tangan kanannya untuk turun ke bawah  dan kembali ke kelas. Azura penasaran sekali tentang Tristan. Entah kenapa Azura bisa merasa seperti itu, begitu penasaran pada satu objek. Mungkin karena Azura dan Tristan memiliki paham yang sama tentang hal yang sama-sama mereka benci? Tristan seperti sebuah misteri baru yang masuk ke dalam kehidupan Azura.
Entah apa pun itu yang mengusik pikiran Azura, dia sangat menanti-nantikan waktu bergulir dengan cepat sampai menunjukkan pukul lima sore. Waktu yang telah ditetapkan Azura pada Tristan tadi.

2.     BE A LITTLE CLOSER
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Tanpa pikir panjang, Azura melesat keluar dari kelasnya. Dia tidak lagi memedulikan bisikan-bisikan serta tatapan aneh yang menghunjami dirinya sejak pelajaran terakhir tadi. Karena, tumben sekali saat pelajaran sejarah tadi, Azura terus fokus memperhatikan Pak Ignatius yang bercuap-cuap mengenai revolusi industri di dunia.
“Hei...! Tristan!” seru Azura sambil masih ngos-ngosan menghampiri Tristan.
Saat ini pukul 17.05. Azura terlambat lima menit dari waktu janjian. Tanpa Azura duga, ternyata Tristan sudah sampai duluan, malah sekarang cowok itu sedang main ayunan bersama anak-anak kecil yang mungkin tinggal di kompleks perumahannya.
“Harusnya orang yang ngajakin itu dateng duluan. Ini malah yang diundang yang dateng duluan.” ujar Tristan sambil mendorong ayunannya.
“Kamu yang terlalu cepet datengnya. Lagian, aku kan Cuma telat lima menit!” Azura nggak mau mengakui kesalahannya. Kemudian dia berdiri di samping tiang ayunan.
“Jangan salah, lima menit itu juga berarti lho. Dulu di Inggris, kalau mau sekolah aku selalu naik kereta. Kalau aku telat satu menit aja, aku harus naik kereta berikutnya yang datengnya setengah jam kemudian! Kamu sendiri udah tau kan, waktu nggak pernah mau peduli pada siapa pun. Dia akan terus berjalan tanpa melihat apapun,” kata Tristan
“Oke, oke, aku tau...Maaf ya, hari ini aku telat dateng dari waktu janjian. Lain kali, kalo aku telat walau cuma sedetik, kamu tinggalin aja deh.” ujar Azura sambil berdiri tiba-toba di depan Tristan yang sedang bermain ayunan.
Untung Tristan tidak terlalu kencang berayun. Kalo nggak, akibat aksi Azura yang tiba-tiba tadi mungkin Azura bisa mental diterpa Tristan.
“Azura, kamu jangan berdiri tiba-tiba di depan aku kayak tadi! Udah tau aku lagi main ayunan! Kalo tadi kamu ke pental gara-gara aku gimana?” seru Tristan sambil berhenti dari aksi main ayunannya, kemudian berdiri persis di depan Azura.
Azura terdiam mendengar kata-kata Tristan barusan. Bukan karena nada suara Tristan yang terdengar sedikit keras, tapi sepertinya Azura mengalami deja-vu. Azura ingat, dulu dia pernah berdiri secara tiba-tiba di depan seseorang yang reaksinya sama seperti Tristan itu.
Tapi, ini bukan cuma deja-vu biasa. Ini benar-benar peristiwa yang pernah terjadi dalam hidupnya lima tahun silam, saat Azura sedang bermain bersama orang itu di sebuah taman juga.
“Azura, kok kamu jadi diem sih? Masih ngerasa bersalah? Udahlah, aku udah maafin kamu kok...” kata Tristan, bingung melihat Azura tiba-tiba melamun.
“Ha?” Azura seperti tersadar dari lamunannya.
Sepertinya Azura mulai teringat kembali kejadian lima tahun silam. Dan kini, kejadian sepuluh bulan lalu yang baru dua hari terakhir ini mampu terhapus dari benaknya, segera datang lagi menghantuinya.
Sekarang, cewek ini malah berjongkok di depannya dan perlahan-lahan menundukkan kepala sambil melipat tangannya terlebih dahulu.
“Nggak, nggak bisa! Sedetik aku bisa ngelupain, tapi detik berikutinya aku pasti inget lagi!” ujar Azura sambil mengacak-acak rambutnya.
“Azura, kamu kenapa? Inget soal apa sih?” ujar Tristan dengan suara halusnya seperti biasa dan ikut-ikutan jongkok seperti Azura.
Azura sendiri tidak sadar telah berbicara seperti itu. Kini di benaknya muncul rentetan kejadian yang selama sepuluh bulan ini menyiksa batinya. Sepertinya Azura sudah mencapai klimaksnya dalam memerangi kejadian itu.
Entah kenapa sekarang Azura merasa capek sekali. Capek karena dia tidak pernah mau membagi kesedihannya dengan siapa pun. Dengan papanya saja, Azura memilih untuk terus memendam semuanya. Kesedihannya, kemarahannya, kejengkelannya. Azura nggak mau mempercayai siapa pun lagi, karena dia takut saat semuanya terasa begitu menyenangkan, tiba-tiba keadan nitu lenyap dalam sekejap. Seperti mimpi.
“Tan, maaf, aku mau pulang aja..,” ucap Azura sambil berdiri dan hendak beranjak dari taman itu secepat mungkin.
“Emangnya kenapa? Kamu masih nggak enak sama aku gara-gara  telat tadi? Aku kan udah maafin kamu..” ujar Tristan sambil memegang tangan kanan Azura dan menahan cewek itu agar tidak meninggalkannya.
“Bukan, bukan soal kamu. Ini tentang aku, Tan.. Aku butuh menenangkan pikiranku di rumah.. Aku..” ucap Azura.
“Oke, aku ngerti. Mungkin lusa atau entah kapan kamu bisa cerita ke aku soal kenapa kamu tiba-tiba bisa jadi bunglon begini. Tapi aku mau kamu besok berangkat sekolah bareng aku, ya.”
“Tan, aku...”
“Bilang iya aja kok segitu susahnya sih? Besok aku tunggu ya di pos satpam depan kompleks kita. Aku nggak tau rumah kamu di mana, jadi nggak bisa jemput kamu.”
“Ya udah...,” ujar Azura sambil meninggalkan Tristan dengan perasaan bingung.
Sepeninggal Azura, Tristan memutuskan untuk kembali ke kosnya yang memang ada di dalam kompleks perumahan yang terkenal elite itu.
Seharusnya sore-sore begini Tristan sudah ada di ranjangnya untuk beristirahat. Tapi lagi-lagi Tristan tidak beristirahat pada waktunya. Sejak tiga hari yang lalu dia baru tidur saat jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Padahal itu sangat tidak  boleh dia lakukan. Tapi Tristan merasa sangat jengkel kalau terus-menerus hanya harus tidur dan minum obat.
Tristan sangat senang sekaligus penasaran akan kehadiran Azura yang ajaib dan tiba-tiba itu. Cewek itu punya pandangan yang sama dengannya tentang waktu. Rasanya aneh saja tiba-tiba menemukan orang yang sama seperti dirinya yang membenci waktu.
Apalagi, Azura-lah yang kemaren berinisiatif mengajaknya bertemu di taman itu, tempat pertama kali mereka bertemu. Tapi, tiba-tiba saja Azura memutuskan untuk meninggalkan Tristan. Cewek itu bahkan tidak memberi alasan yang jelas tentang sikapnya yang seperti bunglon itu.
Tapi, Tristan sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. Di tinggalkan tanpa sebuah penjelasan dan alasan yang pasti.
Oh, iya! Omong-omong soal Tristan, kemarin sore Azura sudah melakukan kesalahan pada Tristan. Pertama, Azura sudah telat lima menit dari waktu janjian (padahal dia yang menetapkan waktunya). Kedua, Azura dengan seenak jidatnya tanpa alasan dan penjelasan yang akurat meninggalkan Tristan begitu saja di taman itu. Di tambah lagi, Azura dan Tristan kan baru beberapa hari berkenalan. Mungkin saja nanti Tristan bakal mencapnya sebagai cewek yang nggak tahu aturan atau etiket.
Jadi, tentu saja nanti Azura harus berangkat sekolah bareng Tristan dan hal pertama yang dilakukannya adalah meminta maaf. Sekarang baru pukul 06.02, Azura meninggalkan kamarnya setelah sebelumnya menulis note untuk papanya bahwa dia bakal berangkat sekolah sendiri.
Delapan menit kemduan, Azura sampai di pos satpam di puntu keluar kompleksnya itu. Tentu saja Tristan belum ada di sana. Lagian, mana mungkin Tristan datang sepagi ini?
Ternyata ada gunanya tadi Azura bangun jam setengah lima pagi, lalu langsung mandi dan siap-siap untuk sekolah. Kali ini, sebagai penebus kesalahannya juga, Azura nggak mau telat. Meskipun Tristan kemaren belum bilang jam berapa mereka akan bertemu, rasanya lebih sopan dan lebih baik kalau Azura yang datang duluan. Sekarang Azura sedang menunggu Tristan di samping kanan pos satpam itu.
Ternyata menunggu memang hal yang paling menjengkelkan dan membosankan. Dua puluh menit menunggu, Tristan tak kunjung datang juga. Apa mungkin Trista mau membalas perilaku tidak sopan Azura kemarin sore? Kalau emang iya, kenapa caranya harus begini?
Tapi, keresahan Azura hilang saat didengarnya suara motor yang tiba-tiba datang meghampirinya. Setelah motor itu berhenti sejajar dengan posisi Azura, si pengendara motor yang mengenakan seragam sekolah seperti dirinya kemudian membuka helm hitamnya da menunjukkan senyum manis yang bisa menjadi pengganti sarapan enak, di pagi yang sedikit dingin itu.
“Wow, hebat banget! Ternyata hari ini kamu yang nyuri start!” kata Tristan.
“Kamu jangan ngomong gitu dong..... Aku masih ngerasa nggak enak, tau, soal yang kemarin,” kata Azura sambil menunjukan muka bersalahnya.
“Soal yang kemarin? Soal apa ya? Aku udah lupa nih....!” ujar Tristan sambil tersenyum nakal meledek Azura.
Sepertinya Azura sudah ingin melontarkan beribu permintaan maaf buat Tristan. “Tan, maaf, kemarin aku udah bikin banyak kesalahan ke kamu. Aku udah telat dari waktu janjian yang aku buat sendiri... Aku udah ninggalin kamu di taman tanpa alasan yang jelas.... Aku juga....”
“Iya, iya, udah kali minta maafnya. Kayak bentar lagi bakal dihukum mati aja kalau nggak ngaku dosa,” Tristan memotong kata-kata Azura.
“Iya, oke...., terus...?”
“Terus apaan?”
“Di maafin atau nggak nih?”
“Maunya gimana?” Tristan membalas pertanyaan Azura dengan pertanyaan juga.
“Ya kamu maunya gimana? Nggak dimaafin, ya?” ujar Azura hopeless.
“Sok jadi dewa banget aku kalo nggak maafin kamu. Tapi....” Tristan menggantung kata-katanya.
“Tapi apa nih?” Azura jadi bingung.
“Kamu harus nemenin aku jalan-jalan hari ini. Pengganti kemarin sore yang harusnya kita ngobrol panjang lebar.”
“Ha? Jalan-jalan? Sekarang?” Azura bingung dengan kata-kata Tristan barusan
“Iya lah, masa tahun depan? Kita bolos sehari aja.... Ayo lah, kamu mau, kan?”
“Tapi, itu kan....”
“Kenapa? Kamu takut guru-guru tau? Atau orangtua kamu?”
“Iya, aku takut papa aku tau. Dia pasti khawatir banget sama aku kalau tau hari ini aku bolos. Apalagi sama kamu...” Azura menggantung kata-katanya.
“Kamu nggak percaya sama aku? Takut diajak ke mana-mana terus di perkosa, gitu?” tembak Tristan to the point.
Azura menarik napas kemudian mengehembuskannya perlahan. “Iya sih, Tan.. Kenapa nggak pas pulang sekolah aja sih? Kan lebih enak...”
“Iya, iya, aku tau kamu pasti nggak bakal segitu gampangnya mengiyakan ajakan dari cowok yang baru kamu kenal. Apalagi orangnya kayak aku.”
Azura memang takut bolos. Nanti kalau papanya tahu gimana? Mungkin Azura bakal nggak boleh pergi ke mana-mana sendirian lagi. Apalagi, Azura diajak bolos oleh orang yang jelas-jelas baru dikenalnya! Tapi, hati kecil Azura ingin sekali mengiyakan ajakan Tristan. Sedari kemarin kan Azura sangat penasaran akan semua hal tentang Tristan. Azura ingin sekali mendengarkan kisah hidup Tristan, semuanya pokoknya.
“Tan, aku mau deh. Tapi tetep, jangan bilang kita lagi bolos, ya! Bilang aja kita hari ini jalan-jalan spesial!” seru Azura.
“Oke. Kamu duduk gih cepetan di bekalang aku. Kecuali kalau kamu mau ngikutin aku dengan jalan kaki...” ujar Tristan lagi.
“Sebenernya kamu mau ngajakin aku ke mana sih, Tan? Nggak ke tempat aneh-aneh, kan?” ujar Azura masih waswas.
“Tenang aja. Aku ini cowok baik-baik dan aku nggak bakal ngapa-ngapain cewek sebaik kamu. Aku ngajak kamu ke tempat yang ramai kok. Bukan tempat yang aneh-aneh kayak diskotek gitu,” ujar Tristan sebelum dia menutup kembali helmnya.
Setelah kurang-lebih satu jam perjalanan, mereka sampai di parkiran motor dekat pintu masuk Dufan. Buat apa Tristan mengajak Azura kesini? Lagi pula, sekarang baru jam delapan lebih lima menit. Mana mungkin Dufan buka sepagi ini?
“Tan, kamu ngajakin aku ke Dufan? Ngapain, coba? Kayak anak kecil aja deh!”
“Emangnya Dufan isinya cuma anak kecil? Sotoy kamu... Jangan-jangan, seumur hidup kamu belum pernah ke Dufan, ya?”
Tentu saja Azura sudah pernah ke Dufan. Azura pernah empat kali ke sini bersama “dia”. Padahal Azura merasa tempat ini adalah tempat yang nggak mungkin dia kunjungi lagi. Tempat ini begitu penuh dengan segala kenangan yang membuat Azura teringat lagi tentang “dia”.

3.     ONE DAY MEANS EVERYTHING
“Azura, kok kamu diem lagi? Hmm...., pasti bentar lagi berubah jadi pendium deh. Terus, kemungkinan besar aku ditinggalin lagi di sini, di parkiran deket Dufan.” ujar Tristan
“Nggak kok. Aku bukan tipe orang yang nggak mau mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya.”
So?
“Apa?” tanya Azura. Di benaknya masih berkelebat memori-memori menyenangkan sepanjang lima tahun silam itu.
“Kenapa sih kamu tiba-tiba jadi diem lagi kayak kemarin? Terus, muka kamu kok jadi suram gitu, kayak orang yang bentar lagi ngadepin kiamat terus nggak punya masa depan?! Hmm..., let me guess... Pasti kamu punya sesuatu yang berarti di Dufan, ya?” tebak Tristan Asal.
Azura seperti tercekik mendengar pertanyaan Tristan yang tiba-tiba tadi. Pertanyaan tadi langsung menohoknya. Apa mungkin Tristan bisa membaca pikirannya?
“Jangan mandang aku kayak aku bisa baca pikiran begitu dong! Aku kan Cuma asal nebak,” ujar Tristan yang bingung tiba-tiba ditatap Azura seolah dirinya hantu.
“Tebakan kamu bener kok. Aku memang punya sesuatu yang berarti di Dufan. Tapi, aku rasa semua orang yang pernah ke Dufan punya sesuatu yang berarti yang nggak mungkin dilupakan.”
“Oh ya?” Tristan mulai tertarik dengan kata-kata Azura barusan.
Sata ini Azura dan Tristan duduk bersebelahan di motor Tiger hitam milik Tristan. Mereka berdua menunggu Dufan buka sambil mengobrol.
“Iya. Mungkin ada beberapa orang yang baru pertama kali ke Dufan dan naik wahana di sini. Mereka nggak mungkin lupa kengerian pertama mereka naik wahana-wahana sadis itu.”
“Wahana-wahana sadis?”
“Iya. Kayak Tornado, Kicir-Kicir, Halilintar, Rajawali, Kora-Kora. Apa nggak sadis tuh?”
“Sadis? Menurut aku sih malah seru banget lho, Zu. Eh iya, aku boleh manggil kamu Zu, kan?” tanya Tristan.
“Iya, iya, terserah. Eh, seru gimana?” ujar Azura penasaran pada kata-kata Tristan terakhir.
“Kalau di Inggris, taman ria seperti Dufan begini sih lewat. Parah banget deh jet coaster di Inggris. Seru dan menantang banget! Bener kata kamu, nggak bakal lupa deh sama kengerian kayak begitu.”
“Emang jet coaster di Inggris kayak gimana sih? Lebih gede daripada Halilintar di Dufan?”
“Iya, gede banget. Kamu pernah nonton Final Destination 3? Kayak gitu deh kira-kira gambarannya.”
“Ha??? Yang di Dufan aja aku nggak berani naik. Apalagi seperti yang kamu bilang tadi.”
“Makanya, sekali-sekali kamu harus coba. Lumayan lho, buat ngelatih kestabilan jantung kita.”
“Biar cepet mati, gitu? Ogah deh..!”
Akhirnya, Azura dan Tristan meneruskan obrolan mereka. Obrolan mereka terus mengalir dan mengalir. Rasanya mereka berdua seperti sahabat lama yang baru dipertemukan lagi. Soalnya, baru sehari kenal mereka berdua langsung nyambung begitu mengobrol.
Lagi-lagi Azura bisa melupakan kejadian itu sejenak. Hari ini ia telah memutuskan untuk berperang memerangi masa lalunya. Meskipun di Dufan ini memori tentang dirinya dan “dia” begitu banyak hingga nggak bisa lagi dibendung oleh Sang Waktu/
“Tan, udah ah, istirahat dulu! Aku nggak kuat naik lagi...!” Azura menarik tangan Tristan untuk duduk di dekat pohon sebentar. Azura nggak kuat lagi naik wahana berikutnya, karena sebelumnya Tristan sudah mengajaknya naik Tornado.
“Ya udah, minum dulu nih,” ujar Tristan sambil memberikan sebotol air mineral pada Azura.
Azura meneguk air minum pemberian Tristan dengan bersemangat. Sepertinya wahana Tornado telah mengambil seperempat ion tubuhnya. Jantung Azura masih berdegup kencang, saking takutnya.
Sejak pertama kali mereka masuk ke Dufan, wahana yang di pilih Tristan tentu saja Tornado. Tadinya Azura menolak naik, tapi karena Tristan  terus mendesak, akhirnya Azura naik juga. Padahal Azura sangat anti naik wahana itu.
“Kamu naik sendiri aja gih. Aku beneran mual banget. Lagian, kamu nggak liat tangan aku gemeteran tadi pas naik Tornado? Terus, muka aku juga merah, tau!”
“Abis, kita mau naik apa? Kicir-Kicir?”
“Gimana kalo kita naik Bianglala aja? Bianglala menantang juga, kan? Tapi juga nggak ngeri-ngeri banget. Deal?” tiba-tiba Azura mendapat ide emas untuk naik Bianglala bersama Tristan.
“Iya deh. Kali ini gantian kamu yang nentuin. Ya udah, yuk kita naik sebelum nanti terlalu lama ngantri.”
Tristan dan Azura kemudian pergi ke wahana Bianglala. Sepertinya wahana itu baru dibuka juga seperti Tornado, jadi Azura dan Tristan mendapat giliran pertama. Akhirnya mereka duduk bersebrangan di dalam kabin Bianglala.
“Tan, kita dapet giliran perdana lagi. Berarti hari ini kita tamu spesialnya Dufan!” ujar Azura riang saat Bianglala sudah mulai bergerak.
“Nggak sia-sia dong aku ngajakin kamu ke Dufan.”
“Menurut kamu?”
“Kelihatannya kamu seneng-seneng aja kok. Padahal, sebelum masuk tadi kamu bilang Dufan tuh tempatnya anak kecil doang. Aku kira kamu bakal nggak suka dateng ke sini.”
“Aku bukannya nggak suka sama Dufan, tapi aku lagi males aja dateng kesini.”
“Kenapa? Apa ada hubungannya sama ‘sesuatu yang berarti’ yang tadi kamu bilang?” tanya Tristan.
Azura hanya diam dan nggak menjawab pertanyaan Tristan terakhir itu. Dia bingung harus menjawab apa.
“Eh, liat deh! Kita bentar lagi sampai ke puncak!” seru Tristan. Dari situ mereka berdua bisa melihat Ancol dan kawasan sekitar Jakarta. Tapi, tiba-tiba Bianglala itu berhenti beroprasi saat posisi Azura dan Tristan tepat di posisi jam dua belas!
“Lho, Tan...,kok Bianglala-nya berhenti sih?!” seru Azura panik.
“Nggak apa-apa. Udah, kamu tenang aja. Yang penting pas kita main Tornado tadi nggak berhenti kan seperti sekarang?” Tristan berusaha menenangkan Azura.
“Para pengunjung, mohon maf atas ketidaknyamanan ini. Mungkin sekitar lima belas menit lagi Bianglala akan beroprasi normal kembali. Terima kasih,” seorang petugas memberi pengumuman dari bawah.
“Tuh, kamu tenang aja. Lagian, kita hoki banget lho bisa berhenti pas di puncak begini. Aku jadi leluasa mandangin semuanya dari sini.”
“Iya, ya. Aku tadi kaget aja, abis Bianglala-nya berhenti tiba-tiba sih...” Azura kini sudah nggak kelihatan panik.
“Seneng banget, dari sini kayaknya aku semakin dekat deh sama langit..” ujar Tristan sambil berdiri melihat pemandangan yang menarik di depannya.
“Langit?”
“Iya. Aku selalu seneng liat langit. Dari dulu sampai sekarang langit itu nggak berubah. Dan, tentu aja, langit nggak pernah ninggalin aku. Ke mana pun aku pergi pasti ada langit di atas aku.”
“Nama aku artinya langit biru lho,” cetus Azura.
“Oh, ya?”
“Iya. Dulu mama aku juga kagum sama langit seperti kamu sekarang, makanya dia namain aku Azura.”
“Wah, berarti emang nggak salah kalo aku nyebut nama kamu indah. Seperi langit biru yang selalu indah...!” seru Tristan sambil memandang Azura lekat-lekat.
“Tapi, kalo mau hujan, langit jadi mendung lho. Aku suka serem liat langit yang seperti itu,” ujar Azura.
“Setelah hujan dan badai reda selalu ada pelangi. Aku rasa pelangi cocok deh menghiasi langit biru.”
“Walaupun habis hujan, kadang kala pelangi nggak muncul. Padahal mungkin ada beribu orang yang menantikan kehadirannya.”
Azura ingat, dulu “orang itu” pernah mengibaratkan dirinya seperti pelangi. Indah dan selalu menjadi tanda hujan telah reda. Sebuah lambang yang sangat berarti dan penuh makna. Makanya, Azura sangat menanti-nantikan hujan reda, karena pasti pelangi akan muncul. Tapi sekarang Azura nggak pernah melihat pelangi itu lagi.
“Aku nggak pernah liat pelangi nggak muncul sehabis hujan. Dulu, kalo lagi hujan aku takut banget sama petir, terus aku pikirin aja pelangi yang pasti muncul sehabis hujan. Itu membuat aku sembuh dari fobia takut petir,” ujar Tristan sambil tersenyum manis.
“Kalo seandainya pelangi nggak muncul juga, apa kamu masih nungguin juga?”
“Tentu aja. Adakalahnya kita menunggu sesuatu, tapi nggak kunjung datang. Tapi kalo kita dengan sabar dan setia menunggu, pasti pelangi itu bakal dateng,” kata Tristan dengan pasti.
Azura tercengang mendengar kata-kata Tristan yang terakhir. Sepertinya kata-kata Tristan menjadi penyejuk sekaligus penyemangat di tengah situasinya yang tidak pasti. Jadi Azura tetap harus berada pada keputusannya, menanti “dia” dengan sabar.
Azura dan Tristan kembali larut dalam obrolan. Mereka berdua saling menceritakan pribadi masing-masing. Tapi, tentu saja Tristan yang paling banyak menceritakan soal dirinya yang sempat tinggal di Inggris. Selebihnya Azura hanya menceritakan dirinya sedikit-sedikit.
Kelihatannya Azura belum mau terlalu terbuka soal dirinya. Apalagi soal kejadian sepuluh bulan lalu itu. Azura belum bisa mempercayai Tristan sepenuhnya. Tapi, entah kenapa hari ini Azura merasa kembali menjadi dirinya yang dulu. Yang penuh senyuman dan ceriwis banget.
Tanpa azura sadari, sedikit demi sedikit Tristan telah membuatnya menjadi Azura yang penuh keceriaan lagi. Dan, daat di Dufan Azura bisa mengingat “dia” dengan penuh senenangan, bukan dengan kesedihan ataupun kemarahan.
Tristan melihat arloji sport  hitam yang selalu setia bertengger di tangan kanannya. Pukul 15.25. Seharusnya dia sudah meminum obatnya dua kali, tapi sepertinya dia benar-benar melupakan waktu hari ini. Tristan merasa hari ini jiwanya bebas sehingga melupakan semuanya.
Akibatnya, Tristan jadi merasa sangat letih dan sedikit mual. Mestinya, jika lupa meminum obat, Tristan harus menggandakan waktu istirahatnya. Sekarang Tristan merasa sebentar lagi tubuhnya bakal ambruk.
“Tan..., kamu kenapa?” Azura bingung melihat Tristan yang tiba-tiba berjalan sedikit sempoyongan.
Azura dan Tristan sedang mengantre untuk masuk ke wahana Extreme Log. Hari ini Azura puas banget bsa menikmati wahana yang belum pernah di naikinya. Ketika antre sudah bergerak maju, Azura yang mengekor di belakang Tristan semakin bingung melihat Tristan yang berjalan semakin sempoyongan.
“Ha..?! Nggak apa-apa kok, Zu. Aku cuma kecapekan nih” jawab tristan sekenanya. Padahal Tristan merasa matanya berkunang-kunang.
“Capek? Dari tadi kamu yang terus-terusan ngajakin aku naik wahana sadis. Kok malahan kamu yang kalah duluan sih?” canda Azura.
“Iya nih. Malah aku yang kalah, ya? Abis ini kita pulang ya, aku pengen cepet-cepet tidur. Mungkin gara-gara semalem aku begadang. Terus aku mau masuk angin nih kayaknya,” ujar Tristan bohong.
“Oke. Lagian, aku nggak mau telat pulang kerumah. Hari ini kan papa taunya aku pulang jam lima. Usahain sebelum jam lima aku udah sampai rumah ya, biar papaku nggak curiga, Tan..”
Setidaknya aku harus kuat sampai nganterin Azura pulang kerumahnya, kata Tristan dalam hati.
“Tan, aku seneng banget, setelah sekian lama akhirnya aku bisa bener-bener ngelupain semuanya,”ujar Azura saat mereka berdua selesai bermain Extreme Log dan berjalan ke pintu keluar.
“Ngelupain apa?” tanya Tristan.
“Ya kepenatan dan kesibukan di sekolah. Aku males kalo lagi di sekolah. Isinya cuma orang-orang munafik yang nggak bisa berperang melawan problem hidup masing-masing.”
“Kayaknya kamu punya dendam sama beberapa anak-anak di sekolah, ya? Kata-kata kamu sinis banget lho!” kata Tristan, yang kini sudah mulai bisa menahan diri agar tidak pingsan di depan Azura.
“Nggak kok. Aku prihatin dan kasihan aja ngeliat mereka. Kayak nggak pernah mensyukur kehidupan yang mereka punya sekarang. Setiap hari aku selalu ngeliat mereka ngeluh minta yang lebih, lebih, dan lebih, dan cuma menginginkan enak-enak. Pahitnya nggak mau.”
“Ya, mungkin sikap alami manusia aja,kali. Selalu mau lebih dan egois. Udah ah, kamu malah ngomongin orang erus. Jadi presenter gosip aja gih.”
“Iya, iya, nggak lagi deh!” ujar Azura yang kini diam sambil berjalan ke parkiran Dufan bersama Tristan di sebelah kirinya.
Akhirnya, pukul lima kurang lima belas menit Tristan berhasil mengantar Azura sampai ke rumahnya. Hebatnya, Tristan sama sekali tidak ambruk di depan Azura. Sehabis mengantar Azura dia berjanji pada dirinya sendiri akan segera minum obat, lalu tidur.
“Tan, makasih ya, hari ini udah ngajak aku ke Dufan. Laim kali kita main-main lagi ke tempat yang fun juga.”
“Oke deh, Bos!” ujar Tristan sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.
“Ya udah, sekarang kamu mampir bentar dong ke rumah aku. Nanti aku kenalin sama papaku,” ajak Azura
Tristan sedikit bingung dengan ajakan Azura untuk mampir. “Lain kali aja, ya. Boleh nggak?”
“Ang nggak bakal nerima tamu di lain waktu.”
“Yah.. kok begitu? Nona rumahnya ternyata sinis ya, berda sama rumahnya yang ramah dan welcome banget sama tamunya.”
“Emang rumah bisa ngomong?! Ayolah, Tan, bentaran aja...!” Azura masih membujuk Tristan.
“Iya, iya,oke..! Susah sih, kamu udah cinta mati sama aku. Jadi kamu masih betah deh berlama-lama sama aku. Aku orangnya ngangenin sih...,”canda Tristan dengan pedenya.
Whatever deh, Tan. Udah, cepet sini masukin motornya!” kata Azura sambil membuka pagar hitam rumahnya dan menyuruh Tristan masuk.
Setelah memarkir motor, Tristan mengikuti Azura masuk dari pintu depan rumah. Azura menyuruh Tristan untuk menunggu sebentar diruang tamu, karena Azura mau menelpon papanya dan bilang nggak usah jemput di sekolah. Kalau nggak, ketauan dong hari ini Azura bolos sekolah.
Sepeninggal Azura, Tristan mendekati lemari kaca di pojok ruang tamu Azura tempat pigura-pigura foto terpajang. Di sana banyak foto Azura kecil bersama keluarganya. Azura lucu banget waktu kecil. Tiba-tiba mata Tristan terbelalak saat melihat satu foto berukuran sedang yang piguranya berwarna pink pastel dengan hiasan kerang-kreang laut.
Di foto itu, Azura yang berseragam SMP tampak memegang sebuah piala sambil tersenyum manis, sementara di sampingnya berdiri seorang cowok yang juga memaikai seragam putih-biru seperti Azura, sedang tersenyum jail. Cowok itu bukannya...
“Tan! Aku sampai lupa mau nawarin kamu minum. Mau minum apa nih?” suara Azura langsung mengagetkan Tristan yang masih serius melihat foto itu.
“Eh, aku minta air putih aja deh. Jangan dingin, ya!” ujar Tristan.
“Oke.” Azura kemduan berbalik ke arah ruang makan.
Setelah Azura mengambilkan minum buat Tristan, mereka duduk di sofa berwarna kuning gading di ruang tamu. Tak lama setelah mereka berdua duduk, klakson mobil CRV yang sangat dikenal dengan Azura terdengar dari depan.
“Itu papaku, Tan!” ujar Azura riang.
Azura menunggu papanya masuk. Saat papanya mulai membuka pintu, Azura mendekatinya.
“Ra, kok ada motor Tiger hitam? Itu punya siapa?” ujar papa bingung melihat  motor di dekat garasinya.
“Makanya, aku mau ngenalin Papa sama yang punya tuh motor. Sini, Tan,” Azura memanggil Tristan.
“Sore, Om, saya Tristan,” ujar Tristan sopan sambil menyalami papa Azura.
“Ohm kamu temen sekelas Azura?” Papa Azura merasa sedikit mengenali Tristan entah karena apa.
“Bukan, Pa. Dia kaka kelas aku. Baru masuk juga, sama kayak aku.” Azura menjelaskan.
Oh... Ya sudah, kalian berdua lanjutin ngobrolnya ya, papa mau masuk dulu,” ujar papa Azura sambil berjalan meninggalkan ruang tamu setelah sebelumnya masih memandangi Tristan dengan penuh arti.
“Zu, aku nggak bisa lama-lama, ya. Aku baru inget, jam enam nanti aku ada janji.” Tristan kembali teringat dengan kondisi tubuhnya.
“Ya udah deh. Yang penting papaku udah kenalan sama kamu. Jadi, nanti kalau aku mau pergi lagi sama kamu, papaku kan udah tau kamu. Pasti diizinin deh!” ujar Azura sambil mengantar Tristan ke luar rumah.
Malam ini berbeda dari malam-malam yang telah Azura lewati selama ini. Hatinya kembali dipenuhi kehangatan sejak diajak pergi Tristan tadi. Rasanya satu hari ini berarti segala-galanya bagi Azura.
Azura bisa membuka diri lagi terhadap orang lain, Azura bisa mempercayai seseorang lagi untuk mendengar cerita-ceritanya meskipun belum sepenuhnya. Azura bisa memerangi sejuta kenangannya tentang orang itu di Dufan tadi. Pokoknya, hari ini terasa begitu lengkap dan indah.
Tanpa Azura sadari, papanya memandangnya dari jauh dan tersenyum penuh arti, azura memang tidak pernah menutup pintu kamarnya, kecuali kalau dia mau tidur. Makanya papa Azura bisa melihat anaknya yang sedang tersenyum sambil memeluk guling itu.
Papa juga bingung mengapa Azura bisa jadi seperti ini setelah dekat dengan Tristan. Padahal sebelumnya Azura nggak pernah begitu. Sepertinya kecurigaan papa semakin bertambah ketika dia menyadari hipotensisnya bahwa Tristan memang mirip “dia”.
Sesampainya di tempat kosnya, sebuah rumah besar di kompleksnya yang berbeda tiga blok dari rumah Azura, Tristan memarkirkan motornya di tempat biasa.kemudian dia langsung masuk ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Hal yang dilakukan Tristan pertama kali adalah mencari obatnya, setelah itu meminumnya dengan air mineral yang sudah tersedia di kamarnya itu. selanjutnya, Tristan membanting tubuhnya di ranjang single di kamar kosnya itu.
Tristan kembali mengenang kejadian-kejadian hari ini bersama Azura. Kemudian, dia tersenyum sendiri mengingat semuanya itu. mengingat tadi dia berhasil tidak ambril di depan Azura.
Besok Tristan akan menjemput Azura di rumahnya untuk pergi ke sekolah bareng. Tristan juga masih sangat penasaran soal foto yang dibingkai frame pink pastel tadi, yang dilihat-lihat di ruang tamu rumah Azura.
Tristan memang bukan tipe orang yang suka bertanya-tanya kepada seseorang mengenai hal-hal yang mungkin bersifat privat. Tapi entah kenapa dia begitu penasaran soal cowok yang berdiri sambil tersenyum jail di samping Azura dalam foto itu.

KESIMPULAN
            Membenci sesuatu yang berlebihan menurut kita memang biasa saja. Namun membenci bukanlah akhir dari semuanya. Kita bisa menghapus kebencian dengan melakukan sesuatu yang baru. Seperti perlahan lahan melupakan tentang apa yang kita benci. Mengorbankan sesuatu hanya untuk membahagiaan seseorang yang menurut kita perlu di bahagiakan itu memang terlihat bagus. Namun, jangan terlalu memaksakan sesuatu sampai lupa dengan kesehatan.

SUMBER
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Penulis: Pricillia Anastasia Warokka
Judul: First Love Dilema